Ning Nawal Hibur Anak Pengungsi Tanah Gerak Brebes, Bagikan Mainan di Posko Bojongsari

oleh
oleh

BREBES, MettaNEWS – Kehadiran Ketua TP PKK Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, membawa keceriaan bagi anak-anak pengungsi korban bencana tanah gerak di Dusun Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes.

Dalam kunjungannya, Jumat sore (27/3/2026), Ning Nawal—sapaan akrabnya—tidak hanya menyapa, tetapi juga membagikan berbagai mainan untuk menghibur anak-anak yang telah dua bulan tinggal di pengungsian.

Suasana pun berubah hangat saat anak-anak tampak antusias menerima hadiah tersebut.

Dika, salah satu anak pengungsi, tampak sumringah saat menerima mainan mobil molen. Sementara Rena dan Jasmine langsung asyik bermain boneka dan peralatan masak yang mereka pilih.

Anak-anak tersebut merupakan bagian dari warga terdampak bencana tanah gerak yang terjadi pada 28 Januari 2026. Sejak saat itu, mereka tinggal di posko pengungsian yang berlokasi di Ponpes Bahrul Quran Al Munawwir, desa setempat.

Ning Nawal hadir mendampingi suaminya, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, yang juga meninjau langsung kondisi para pengungsi. Selain berinteraksi dengan anak-anak, Ning Nawal turut bercengkerama dengan para ibu di pengungsian, bahkan melayani ajakan swafoto dari warga.

Posko pengungsian tersebut saat ini menampung 533 jiwa dan menyediakan berbagai layanan, mulai dari kesehatan, konsumsi, hingga fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK).

Kepala Desa Sridadi, Sudiryo, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan pemerintah daerah. Ia berharap kunjungan tersebut dapat mengobati kerinduan warga terhadap para pemimpinnya.

“Semoga kedatangan bapak dan ibu di lokasi pengungsian ini dapat menghibur dan mengobati rasa rindu kami,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Taj Yasin juga menyerahkan bantuan sembako dari Baznas Jawa Tengah kepada para pengungsi serta memastikan layanan kesehatan berjalan optimal.

Ia menegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mengupayakan percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak. Namun, proses tersebut masih menunggu tahapan karena lahan yang akan digunakan merupakan milik Perhutani.

“Kami akan berhati-hati dalam menentukan lokasi agar tidak merusak lingkungan. Lahan akan disurvei terlebih dahulu supaya aman dan tidak membahayakan,” jelasnya.

Diketahui, bencana tanah gerak tersebut telah merusak 143 rumah milik 176 kepala keluarga yang kini harus meninggalkan tempat tinggalnya demi keselamatan.
Salah satu warga, Asro, berharap pembangunan huntara dapat segera direalisasikan agar para pengungsi bisa kembali memiliki tempat tinggal yang layak.

“Kami berterima kasih kepada semua pihak, terutama Ponpes Bahrul Quran yang telah menyediakan tempat sementara. Harapannya, pembangunan huntara bisa dipercepat,” ungkapnya.