Jam Matahari di Masjid Agung Keraton, Masih Digunakan untuk Penanda Waktu Salat

oleh
jam matahari
Penampakan Jam matahari di Masjid Agung Solo, Selasa (05/4/2022) | MettaNEWS / Kevin Rama

SOLO, MettaNEWS – Jam Bencet atau Jam Istiwa’ atau yang lebih dikenal dengan istilah jam matahari, adalah alat penunjuk waktu masa lalu yang masih dimiliki Masjid Agung Keraton Surakarta. Bahkan, jam yang dipasang tahun 1855 itu hingga kini masih sering dipergunakan untuk menentukan waktu salat.

Kepala Tata Usaha Masjid Agung, Muhammad Alip kepada MettaNEWS Selasa (05/4/2022) menjelaskan pengunaan jam matahari ini untuk saat ini menjadi pengukur waktu untuk penanda waktu salat Zuhur dan Asar.

“Cara kerjanya pada bidang melengkung ini di jam Bencet ini ditulis angka-angka jam, lalu sebuah paku di atasnya ini untuk memberikan bayangan, dan bayangan paku tersebut menunjukan angka jam nya berapa,” jelasnya

Angka yang terdapat didalam cekungan tersebut terdapat angka 6 -12 menunjukan pagi hingga siang dan setelah angka 12 terdapat angka dari 1 – 6 menunjukan siang hingga sore. Dalam setiap jarak antara angka pada jam matahari ini terdapat 5 titik penanda menit yang setiap titik menandakan 12 menit.

Jam Bencet atau Jam matahari tampak dari dekat

“Jam Bancet ini cekungan diarahkan ke selatan-utara dan samping nya diarahkan ke timur dan barat sehingga dapat menghasilkan bayangan paku yang menunjukkan angka jam, namanya juga jam matahari bisa di gunakan ketika ada matahari, kalau mendung tidak bisa dipakai karena mengandalkan cahaya matahari untuk mendapatkan bayangan dari paku di atas ini,” jelasnya

Alip juga menjelaskan untuk sekarang perbedaan waktu jam matahari dengan Waktu Greenwich atau Greenwich Mean Time (GMT) sebanyak 25-30 menit.

Sejarah jam Matahari di Masjid Agung ini berasal dari pembangunan Masjid Agung pada tahun 1784 Jawa /1855 M, yang angkanya tercantum di struktur penyangga jam, tahun tersebut menunjukan masa Pakubuwono VIII.

Masjid Agung Solo dibangun dari beberapa masa pemerintahan Raja Mataram Islam, yang diawali dari Pakubuwono III pada sekitar tahun 1749 M dan terus dibangun hingga pada masa Pakubuwono X (1893-1939 M).

“Untuk sekarang yang mengerti pengunaan jam Bencet ini ya masih ada, fokusnya biasanya malah ke perguruan tinggi ilmu falak yang mempelajari benda benda langit khusus nya bumi, bulan, dan matahari-pada orbitnya masing-masing, eksisnya malah ke situ,” pungkasnya.