Dalang Muda Larry Allen Santoso, Ketika Pelestari Budaya Jawa Lahir dari Darah Tionghoa

oleh
Larry Allen Santoso
Dalang cilik keturunan Tionghoa, Larry Allen Santoso membawakan lakon Bratasena Meguru di perayaan Cap Go Meh 2026 di Balai Kota Solo, Selasa (3/3) | MettaNEWS / Feryan

SOLO, MettaNEWS – Di atas panggung perayaan Cap Go Meh di Balai Kota Solo, seorang remaja duduk bersila tumpang di balik kelir. Ia tampak gagah mengenakan ageman Jawi jangkep beskap kuning dengan jarik dan blangkon senada berwarna cokelat.

Dengan tatapan tajam, tangannya mulai manancapkan beberapa wayang kulit di atas gedebog (batang pisang-red). Tak menunggu waktu lama, ia memulai pertunjukan. Suaranya yang menggelegar membuat malam yang dingin menjadi hening. Seketika ratusan pasang mata mulai tertuju padanya.

Ia adalah Larry Allen Santoso, dalang muda berdarah Tionghoa yang hidup dengan Sindrom Asperger. Larry atau Tan Ge Yang (nama Tionghoa) begitu mencintai dunia pewayangan.

Ketertarikannya tumbuh tanpa paksaan dari siapapun. Pun tanpa latar belakang darah seniman, Larry justru jatuh hati pada seni pertunjukan tradisional Jawa ini sejak usainya masih sangat belia.

Kedua orangtuanya memberi Larry dukungan penuh dengan mendaftarkan Larry di dua sanggar sekaligus. Hari-harinya diisi dengan berlatih di Sanggar Madangkara dan Sanggar Seni Sarutomo. Dari waktu ke waktu kemampuannya kian terasah. Larry kian piawai dalam memainkan peran.

Malam perayaan Cap Go Meh, Selasa 3 Maret 2026 menjadi salah satu panggung penting dalam perjalanan hidup Larry. Didampingi guru dalang private-nya, Kukuh Ridho Laksono, Larry tampil dengan penuh percayaan diri.

Tangannya tegas, suaranya menggema, lakon (cerita-red) Bratasena Meguru dibuatnya hidup. Tokoh penting Kota Solo maupun panitia Imlek nasional yang datang dari Jakarta dibuatnya senang.

Malam itu, Larry tidak hanya tampil, ia juga mendapat penghargaan oleh panitia Imlek bersama atas peran sertanya sebagai keturunan Tionghoa yang melestarikan budaya Jawa. Termasuk penampilannya secara perdana di Cap Go Meh yang digelar panitia Imlek bersama Kota Solo.

Kukuh mengatakan, Larry belajar mendalang sejak usianya masih 7 tahun. Bukan hal yang mudah bagi Larry yang setiap harinya menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dan harus belajar mendalang dengan Bahasa Jawa.

“Kalau kesulitan mungkin tantangannya mendalang itu identik dengan Bahasa Jawa. Bahasa Jawanya Larry kan belum sempurna. Tapi itu proses, pengucapannya terkadang masih salah-salah. Tapi itu no problem (tidak masalah-red) Itu nanti berjalannya waktu pasti bisa,” kata Kukuh.

Pria yang telah menggeluti profesi dalang selama 26 tahun itu mengaku senang Larry dapat tampil di Cap Go Meh Kota Solo. Ia juga bangga dengan Larry yang memiliki tekad untuk nguri-uri (melestarikan-red) Budaya Jawa.

“Ya saya senang. Artinya ada yang nguri-nguri (melestarikan-red) kebudayaan. Terus kebetulan dia lintas suku,” terangnya.

“Saya berharap Larry tetap semangat untuk belajar dalang. Karena dalang itu enggak bisa 1-2 hari belajarnya tapi seumur hidup, termasuk bagi dalang senior sekalipun,” ujar pria yang mengajar di jurusan pedalangan SMK 8 Surakarta itu.

Hadirnya Larry sebagai dalang muda berdarah Tionghoa menjadi bukti bahwa pelestari budaya tidak terbatas pada usia, suku maupun kondisi. Larry tak hanya bermain wayang, ia adalah harapan untuk terus menghidupkan budaya Indonesia di masa mendatang.