SEMARANG, MettaNEWS — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus melakukan intervensi untuk menekan kenaikan harga bahan pokok penting (bapokting) menjelang Ramadan.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Bupati Semarang Ngesti Nugraha meninjau Pasar Projo Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jumat, 20 Februari 2026, guna memastikan stok dan harga pangan tetap terkendali.
Dalam peninjauan tersebut, Ahmad Luthfi berkeliling pasar dan berdialog langsung dengan pedagang serta pengunjung untuk menyerap informasi terkini terkait harga komoditas pangan.
Hasil pantauan menunjukkan harga pangan relatif terkendali, meski beberapa komoditas mengalami kenaikan di atas Harga Acuan Pembelian (HAP), seperti cabai rawit merah dan bawang merah.
Menindaklanjuti temuan itu, Ahmad Luthfi langsung menginstruksikan Direktur Jateng Agro Berdikari (JTAB) untuk menggelar operasi pasar sebagai langkah cepat mengintervensi harga komoditas yang melonjak.
“Koordinasi dengan dinas atau instansi terkait,” tegas Luthfi di sela-sela tinjauan.
Selain operasi pasar, Pemprov Jateng juga menyiapkan langkah sistematis melalui Dinas Ketahanan Pangan Provinsi dengan menggelar 308 kali Gerakan Pangan Murah (GPM) hingga Maret 2026. Kegiatan ini akan dilaksanakan di seluruh kabupaten/kota untuk menjaga ketersediaan, stabilitas, dan keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat.
Kepala Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pasokan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah, Sri Broto Rini, menyampaikan bahwa Jawa Tengah saat ini mengalami surplus pangan, terutama beras. Namun, menjelang hari besar keagamaan terjadi peningkatan permintaan.
“Memasuki bulan Ramadan, 12 komoditas pangan strategis di Jawa Tengah stoknya semua masih aman,” ujarnya.
Rini mengakui adanya kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir, terutama cabai yang rata-rata mencapai Rp80 ribu per kilogram di tingkat konsumen.
Selain itu, daging ayam dan daging sapi juga mulai mengalami kenaikan, meski masih di bawah batas HAP sehingga dinilai aman.
Menurutnya, kenaikan harga cabai turut dipengaruhi oleh tingginya permintaan dari luar daerah, khususnya Jakarta, yang harga cabainya telah menembus Rp100 ribu per kilogram.
“Akibatnya harga di Jawa Tengah ikut naik juga, meskipun tidak signifikan seperti di Jakarta,” jelasnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pemprov Jateng melakukan intervensi melalui subsidi harga di tingkat konsumen. Melalui penugasan JTAB, cabai dijual dengan harga Rp65 ribu per kilogram agar lebih terjangkau oleh masyarakat.







