Kejar Eliminasi TBC 2030, Pemprov Jateng Perkuat Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat

oleh
oleh

SEMARANG, MettaNEWS – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam upaya pengendalian tuberkulosis (TBC) guna mengejar target eliminasi TBC pada 2030. Sepanjang 2025, capaian pengendalian TBC di Jawa Tengah menunjukkan tren positif meski masih dihadapkan pada sejumlah tantangan.

Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Meimoen (Gus Yasin), mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, usai melantik Pengurus Wilayah Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Jawa Tengah periode 2025–2030 di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Kamis (22/1/2026).

Menurut Taj Yasin, keterlibatan aktif masyarakat menjadi faktor kunci dalam memastikan penemuan kasus TBC serta keberhasilan pengobatan hingga tuntas. Penguatan peran komunitas dinilai mampu memperluas jangkauan layanan kesehatan hingga ke tingkat paling bawah.

“Pengendalian TBC ini tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Keterlibatan masyarakat sangat penting agar penemuan kasus dan pengobatan bisa berjalan optimal,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, Wakil Gubernur didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin, yang juga dilantik sebagai Ketua Badan Kehormatan PPTI Jawa Tengah. Pelantikan ini menjadi momentum penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi masyarakat dalam pengendalian TBC berbasis komunitas.

Taj Yasin menegaskan, agenda pengendalian TBC merupakan bagian dari prioritas nasional hingga 2030. “Target itu ada di tahun 2030,” katanya.

Di Jawa Tengah, capaian pengendalian TBC pada 2025 menunjukkan hasil yang cukup baik. Temuan kasus TBC telah mencapai 84 persen dari target 90 persen. Sementara itu, penderita yang memulai pengobatan tercatat sebesar 94,7 persen, dengan angka kesembuhan mencapai 85 persen dari target 90 persen.

Meski demikian, Taj Yasin menekankan pentingnya menjaga kesinambungan pengobatan agar hasil yang dicapai dapat berkelanjutan. “TBC ini tidak hanya cukup diobati, tetapi harus tuntas supaya masyarakat tetap sehat,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan pengendalian TBC juga berkontribusi langsung terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dalam konteks tersebut, peran organisasi masyarakat seperti PPTI dinilai semakin strategis sebagai mitra pemerintah.

PPTI berperan dalam edukasi masyarakat, penjaringan suspek TBC, pendampingan pengobatan, hingga pencegahan putus obat dan TBC resisten obat.

“Dengan adanya PPTI, saya berharap kolaborasi dan kerja sama bisa benar-benar terwujud. Syukur-syukur di tahun 2026 bisa kita capai hasil yang lebih baik,” pungkas Taj Yasin.