SOLO, MettaNEWS – Lembaga Dewan Adat (LDA) membantah adanya penganiayaan yang dilakukan oleh cucu Paku Buwono (PB) XIII, BRM Suryo Mulyo kepada tim keamanan Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Purbaya berinisial RP (23) pada Minggu 18 Januari 2026.
Ketua Eksekutif LDA, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Eddy Wirabhumi, menjelaskan menjelang kedatangan Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, ia menyaksikan BRM Suryo Mulyo berupaya menyelamatkan seseorang yang dianggap overaktif dan memicu benturan antar pihak agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
“Yang saya lihat, kan dia di samping saya, dia membawa tasnya Gusti, dia (BRM Suryo Mulyo) lihat anak ini yang rambut putih (RP) kok agresif, Mas Suryo Mulyo itu narik dia (RP) supaya minggir biar tidak terjadi sesuatu kepada dia karena mau benturan sama yang lain, dipinggirin. Saya sampaikan juga buat sudah sudah, terus dilepas sama Mas Sutyo Mulyo. Setelah dilepas terjadi apa sama dia (RP) saya nggak tahu. Karena saya jalan sama Mas Suryo Mulyo,” ujarnya kepada awak media di Bangsal Morokoto, Selasa (20/1/2026).
Penyerahan Surat Keputusan (SK) Menbud Nomor 8 Tahun 2026 untuk KGPH Panembahan Agung Tedjowulan sebagai Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, atau Pemanfaatan Karaton Surakarta sempat diwarnai keributan dari pendukung dua kubu antara LDA dengan kubu KGPH Purboyo.
Namun demikian, KPH Wirabhumi telah mengonfirmasi langsung dengan BRM Suryo Mulyo dan didapati hasil bahwa tidak ada pemukulan dalam keributan tersebut. Termasuk baju batik yang robek, ia juga tidak tahu menahu. Lebih lanjut tidak ada pemberitahuan yang masuk kepada LDA terkait aduan kekerasan tersebut.
“Saya sudah konfirmasi, dia (Suryo Mulyo) tidak melakukan pemukulan. Belum ada pemberitahuan, pemanggilan juga belum. Mediasi juga belum, belum ada apa-apa. Ini kita tahu dari media. Itu baju yang robek, robeknya gimana kami juga nggak tahu,” terangnya.
KPH Wirabhumi menyatakan tidak mengetahui siapa saja yang terlibat dalam pengeroyokan tim keamanan KGPAA Purbaya. Ia menjelaskan satu hari sebelumnya pihaknya bersama Forkopimda Pemerintah Kota (Pemkot) Solo dan pihak KGPAA Purbaya telah melakukan Rapat Koordinasi (Rakor) untuk membahas pembukaan kunci Keraton Surakarta.
“Yang ngeroyok siapa saya juga nggak tahu, kalau terjadi. Saya nggak tahu karena saya jalan sama Mas Suryo, kami mencari Gusti (Moeng). Dan saya, Mas Suryo, Gusti (Moeng) itu dalam rangka menjalankan tugas, karena waktu Rakor di Pemkot Solo dihadiri juga oleh Forkopimda hari Sabtu bahkan dihadiri juga oleh pihak mereka. Itu Panembahan (Tedjowulan) sudah ngendika (mengatakan-red) supaya semua kunci sudah dibuka,” terangnya.
Terkait dengan pembukaan kunci Keraton Surakarta yang berakhir ricuh tersebut, pihaknya menyebut ia hanya sekadar menjalankan tugas dari negara bersama pihak keamanan dari kepolisian, TNI dan pejagen (pihak penjaga keraton).
“Kami sedang menjalankan tugas. Harusnya hari Minggu itu semua kunci sudah dibuka. Kami datang bersama polisi dan TNI. SK kementerian pun sudah diberikan ke Panembahan hari Selasa malam lalu, bukan tanggal 18. Jadi apa yang kami lakukan kemarin Minggu itu sudah berdasar SK. Hari Minggu itu hanya sekadar simbolis formalitas,” jelasnya.
Dikatakannya, pihak KGPH Purbaya justru menghalangi pejabat negara yakni Menbud Fadli Zon untuk melakukan kunjungan.
“Mereka menghalangi pembukaan itu. Padahal menghalangi pejabat negara, dalam hal ini Pak Menteri yang mau melakukan kunjungan, itu ada pasalnya. Dalam hal ini mengunci, menggembok. Apalagi ini dalam upaya revitalisasi untuk perbaikan,” sambung Eddy.
KPH Wirabhumi menyayangkan sikap kubu KGPAA Purbaya. Dia berharap seharusnya pihak KGPAA Purbaya dapat menerima kedatangan Menbud Fadli Zon dengan baik.
“Harusnya Pak Menteri diterima, diderekke (diantar-red), ditunjukkan kerusakannya sambil ngobrol kalau ada aspirasi apa disampaikan. Jangan model dikunci-kunci gini ngapain. Pak Menteri cuma mau lihat mana kerusakannya. Padahal sudah dirapatkan, mereka datang tapi sayangnya mereka walk out menolak ini menolak itu. Saya terus terang sangat menyayangkan sikap seperti itu,” pungkasnya.







