SOLO, MettaNEWS – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengukuhkan lima guru besar dalam Sidang Senat Terbuka yang diselenggarakan Selasa (20/1) di Edutorium KH. Ahmad Dahlan UMS. Kegiatan ini dihadiri jajaran pimpinan universitas, para guru besar, serta keluarga dan kolega para profesor yang dikukuhkan.
Prosesi pengukuhan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan doa, menciptakan suasana khidmat dan penuh kekhusyukan. Momentum ini menjadi penanda penguatan tradisi akademik UMS sekaligus wujud kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan lintas disiplin.
Lima guru besar yang dikukuhkan berasal dari bidang keilmuan strategis dan relevan dengan tantangan zaman. Mereka adalah Prof. Dr. Ir. Suranto, S.T., M.M., M.Si. dengan karya “Inkubator Bisnis Berbasis Teknologi (Technopreneurship), Menuju Kemandirian Lulusan (Potensi dan Tantangannya)” sebagai Guru Besar UMS ke-66.
Selanjutnya, Prof. Ir. Eko Setiawan, S.T., M.T., Ph.D. dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-67 melalui karya “Hidup Berdampingan dengan Risiko Bencana: Ikhtiar Menuju Masyarakat Tangguh Bencana”.
Prof. Heru Supriyono, S.T., M.Sc., Ph.D. menjadi Guru Besar ke-68 dengan karya “Aplikasi Instrumentasi dan Kendali dalam Berbagai Bidang di Era Internet of Things (IoT) untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan”.
Sementara itu, Prof. Dr. Umi Budi Rahayu, SST.FT., Ftr., M.Kes. dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-69 melalui karya “Neurorestorasi Pasca Stroke: Strategi Fisioterapi untuk Meningkatkan Fungsi Optimal”.
Adapun Prof. Andri Nirwana, S.Th., M.Ag., Ph.D. dikukuhkan sebagai Guru Besar UMS ke-70 dengan karya “Ilmu Tafsir dan Tanggung Jawab Etika Kebangsaan: Membaca Asta Cita dalam Horizon Al-Qur’an”.
Setelah pembacaan Surat Keputusan Guru Besar dan riwayat hidup oleh Sekretaris Senat UMS, Prof. Dr. Anam Sutopo, M.Hum., acara dilanjutkan dengan pemutaran video profil serta pidato singkat dari para guru besar. Prosesi pengukuhan dilakukan melalui pembacaan naskah pengukuhan oleh Ketua Senat, kemudian pengalungan samir guru besar oleh Rektor UMS bersama Ketua Senat, Prof. Dr. Absori, S.H., M.Hum.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Jawa Tengah, Prof. Dr. Aisyah Endah Palupi, M.Pd., menyampaikan bahwa UMS memiliki potensi besar untuk terus menambah jumlah guru besar dengan total 856 dosen yang dimiliki.
“Capaian jabatan guru besar saat ini tidak lagi dibatasi usia. Kami berharap para profesor mampu memberi dampak dan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Koordinator Kopertais Wilayah X Jawa Tengah, Prof. Dr. H. Nizar, M.Ag., menegaskan bahwa guru besar memiliki tanggung jawab moral, amanah, dan sosial.
“Selain sebagai pemimpin publik, guru besar harus tampil sebagai pemimpin intelektual dan moral yang aktif menyebarluaskan keilmuan di ruang akademik maupun sosial,” ungkapnya.
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menyampaikan rasa syukur atas pengukuhan tersebut. Saat ini, UMS telah memiliki 70 guru besar dan terus mendorong percepatan capaian melalui visi One UMS One Guru Besar.
“Kami mengajak seluruh sivitas akademika untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan secara kolaboratif dan berdampak bagi masyarakat,” pesannya.
Apresiasi juga disampaikan Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Bambang Setiaji, M.S., yang menyebut UMS sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah dengan jumlah guru besar terbanyak.
Ia menekankan pentingnya integrasi keilmuan dengan nilai-nilai Islam serta penguatan riset yang sederhana, aplikatif, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM.
Pengukuhan lima guru besar ini menjadi momentum strategis bagi UMS dalam memperkuat perannya sebagai poros intelektual Muhammadiyah dan Indonesia, sekaligus meneguhkan komitmen pengembangan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada kemaslahatan umat dan bangsa.








