Revitalisasi Segaran Sriwedari, Pemkot Solo Hidupkan Kembali Warisan Sejarah dan Ruang Publik Budaya

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani bersama Sekretaris Daerah Kota Surakarta, Budi Murtono, meninjau langsung proses revitalisasi Kolam Segaran di kawasan Taman Sriwedari, Senin (12/1).

Peninjauan ini menjadi bagian dari komitmen Pemkot Surakarta dalam menjaga, merawat, dan mengoptimalkan kawasan bersejarah agar kembali memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Kawasan Segaran merupakan bagian tak terpisahkan dari area bersejarah Taman Sriwedari yang memiliki nilai historis kuat. Pada masa pemerintahan Pakubuwono X, Segaran atau yang dikenal sebagai wilayah kebon rojo, menjadi salah satu destinasi wisata penting di Kota Solo. Nilai sejarah inilah yang kini kembali dihidupkan melalui program revitalisasi.

Astrid Widayani menegaskan bahwa revitalisasi kawasan Segaran tidak semata-mata berfokus pada penataan fisik, namun juga pada penguatan nilai sejarah dan budaya yang melekat di dalamnya. Menurutnya,

Segaran memiliki peran penting dalam perjalanan panjang Kota Solo dan patut dihadirkan kembali sebagai bagian dari identitas kota.

“Kawasan Segaran ini memiliki sejarah panjang dan nilai budaya yang kuat. Pemerintah Kota Surakarta berkomitmen memanfaatkan lahan yang ada agar bisa direvitalisasi dan digunakan kembali, sehingga keberadaannya dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” terang Astrid.

Revitalisasi ini diharapkan mampu mengembalikan fungsi Segaran sebagai aset kota yang memperindah wajah Surakarta secara estetik sekaligus memberi ruang bagi berbagai aktivitas masyarakat. Dalam proses pembangunan, ditemukan sebuah bangunan bersejarah yang dikenal sebagai gua swara.

Temuan ini sebelumnya tidak masuk dalam perencanaan awal, namun justru memperkaya nilai sejarah kawasan Segaran.

Gua swara pada masa lalu digunakan sebagai tempat menyimpan gamelan dan sesekali dimanfaatkan sebagai ruang untuk memainkan gamelan. Meskipun ruangannya relatif kecil dan tidak memungkinkan penggunaan seperangkat gamelan secara lengkap, suara gamelan tetap dapat terdengar meski aktivitasnya tidak terlihat secara langsung. Temuan ini membuka peluang besar untuk menghidupkan kembali fungsi budaya kawasan Segaran seperti pada masa lampau.

“Awalnya bangunan ini tidak direncanakan, namun dalam proses pembangunan justru ditemukan gua swara. Ini menjadi catatan penting agar perencanaan ke depan bisa mengakomodasi unsur sejarah dan budaya yang sebelumnya tersembunyi,” jelas Astrid.

Selain itu, terdapat area di bagian atas kawasan Segaran yang pada masa lalu digunakan sebagai tempat menunggu dalam tradisi selikuran dari Keraton. Pemerintah Kota Surakarta berencana meninjau kembali kemungkinan menghidupkan fungsi tersebut.

Selama ini, keterbatasan ruang kerap menjadi kendala dalam pelaksanaan tradisi selikuran, sehingga kawasan Segaran dinilai berpotensi menjadi alternatif lokasi yang lebih representatif.

Saat ini, revitalisasi masih difokuskan pada penataan bagian dalam kawasan Segaran. Pada tahap selanjutnya, penataan lingkungan luar juga akan menjadi perhatian, termasuk rencana pembangunan dua jembatan untuk memperlancar akses keluar-masuk kawasan. Ke depan, kawasan

Segaran direncanakan terbuka untuk masyarakat umum dengan tetap mengedepankan aspek kebersihan, kenyamanan, serta kelestarian nilai sejarah.

“Secara prinsip, kami ingin aset-aset di Kota Surakarta, khususnya wilayah selatan, dapat dimanfaatkan secara lebih optimal, baik dari sisi fungsi maupun penataannya. Yang paling penting, nilai sejarah dan tradisi tetap terjaga untuk generasi mendatang,” pungkas Astrid.