UNS Kembangkan Pengusir Tikus Ultrasonik Berbasis IoT, Dorong Smart Farming di Desa Turus Klaten

oleh
oleh
Tim pengabdian Universitas Sebelas Maret (UNS) kenalkan teknologi Internet of Things (IoT) Pengusir Tikus Ultrasonik pada para petani di Desa Turus, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten | MettaNEWS / Dok Tim Pengabdian UNS

KLATEN, MettaNEWS — Tim pengabdian Universitas Sebelas Maret (UNS) memperkenalkan teknologi Internet of Things (IoT) berupa Pengusir Tikus Ultrasonik kepada para petani di Desa Turus, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten. Program ini hadir sebagai solusi atas tingginya kerugian akibat serangan hama tikus yang selama beberapa musim terakhir menyebabkan penurunan produktivitas padi di wilayah tersebut.

Tikus diketahui sebagai salah satu hama utama tanaman padi yang dapat merusak sejak fase awal hingga menjelang panen. Jika tidak dikendalikan dengan tepat, populasi tikus dapat menimbulkan kehilangan hasil panen dalam jumlah signifikan.

Selama beberapa musim terakhir, para petani di Desa Turus mengaku mengalami kerugian berulang akibat serangan tikus yang sulit ditekan.

“Kadang dalam semalam saja batang padi yang sudah berisi bisa habis digigit tikus. Rasanya seperti bekerja berbulan-bulan hanya untuk melihat sawah kami kosong lagi,” ungkap salah satu perwakilan petani Desa Turus.

Paetani tersebut menambahkan pihaknya sudah mencoba berbagai perangkap hingga gropyokan tikus berulang kali.

“Racun dan perangkap sudah kami coba. Gropyokan sudah kami lakukan berulang kali. Tapi tikus sekarang makin cerdas, makin sulit dikendalikan. Saat gagal panen, bukan hanya padi yang hilang—tapi juga semangat,” ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, UNS memperkenalkan solusi berbasis teknologi dengan pemasangan perangkat AWS dan Pengusir Tikus Ultrasonik berbasis IoT. Perangkat ini dirancang memancarkan frekuensi ultrasonik acak yang tidak terdengar oleh manusia, namun mampu mengganggu komunikasi tikus.

Sistem dilengkapi dengan sensor cahaya sehingga dapat aktif secara otomatis pada malam hari, menyesuaikan dengan pola aktivitas tikus yang bersifat nokturnal.

Dalam sesi edukasi bersama para petani, Dr. Ir. Retno Wijayanti, M.Si., akademisi dari bidang Proteksi Tanaman, menegaskan pentingnya penerapan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

“Tikus adalah hama dengan kemampuan adaptasi sangat tinggi dan reproduksi cepat. Karena itu, pengendalian tidak bisa hanya mengandalkan satu metode. Integrasi teknologi seperti IoT akan memperkuat monitoring, mempercepat respons, dan mengurangi ketergantungan pada racun,” jelasnya.

Ketua tim pengabdian, Dr. Ir. Choiroel Anam, M.P., M.T., menambahkan bahwa pengembangan teknologi ini bertujuan membantu petani mengendalikan hama secara lebih efektif sekaligus ramah lingkungan.

“Selama ini petani bertumpu pada pengalaman dan insting. Melalui IoT, pengambilan keputusan dapat berbasis data. Tujuan kami sederhana: membantu petani melindungi tanaman dan mencegah kerugian berulang akibat tikus,” ujarnya.

Beberapa hari setelah pemasangan perangkat, petani mulai merasakan perubahan nyata di lahan mereka. Tikus yang biasanya aktif di pematang dan area galengan mulai berkurang.

“Dulu hampir setiap pagi ada batang roboh. Sekarang itu sudah jarang sekali. Setidaknya kami bisa sedikit tenang untuk musim ini,” tambah perwakilan petani Desa Turus.

Program ini merupakan bagian dari misi “Membangun Desa Turus Smart Village 4.0”, yang termasuk dalam program pengabdian masyarakat hibah desa binaan LPPM UNS tahun 2025. Kegiatan ini bertujuan menggabungkan teknologi, edukasi, dan pemberdayaan petani untuk mewujudkan pertanian cerdas berbasis data.

UNS berharap penerapan IoT di sektor pertanian dapat menjadi model smart farming di tingkat desa serta memperkuat ketahanan pangan nasional melalui kemandirian teknologi lokal.