UMS Tambah Dua Guru Besar di FEB, Dorong Peningkatan Kualitas Akademik dan Akreditasi Internasional

oleh
oleh
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS tambah 2 guru besar baru | MettaNEWS / Puspita

SOLO, MettaNEWS – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) semakin memperkuat kualitas akademiknya dengan bertambahnya dua guru besar baru. Dekan FEB UMS, Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa saat ini FEB telah memiliki total tujuh guru besar yang tersebar di berbagai bidang keilmuan, meliputi empat di bidang Manajemen, dua di bidang Ilmu Ekonomi Pembangunan, dan satu di bidang Akuntansi.

“Kami berharap dengan bertambahnya jumlah guru besar, kualitas akademik FEB UMS akan semakin meningkat. Setiap guru besar memiliki spesialisasi keilmuan yang jelas, yang tidak hanya berkontribusi dalam pengembangan ilmu tetapi juga dalam mempertahankan akreditasi unggul untuk program studi kami, termasuk S2 Magister Manajemen,” ungkapnya.

Dengan bertambahnya jumlah guru besar di FEB UMS, Anton berharap kontribusi akademik dalam bidang kepemimpinan, ekonomi, dan manajemen bencana semakin kuat. Ttidak hanya di tingkat nasional tetapi juga menuju akreditasi internasional.

Dua guru besar baru yang akan dikukuhkan adalah Prof. Dr. Jati Waskito, SE., M.Si., Guru Besar Bidang Ilmu Kepemimpinan Organisasi. Dan Prof. Dr. Muzakar Isa, SE., M.Si., Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan.

Prof. Dr. Jati Waskito, SE., M.Si., meneliti tentang pentingnya perilaku organisasi dan manajemen sumber daya manusia dalam meningkatkan efektivitas kerja karyawan.

Prof. Jati menyoroti kepemimpinan organisasi, khususnya dalam perilaku ekstra peran karyawan. Ia memaparkan bagaimana pendekatan social exchange atau pertukaran sosial menjadi faktor penting dalam membangun loyalitas dan motivasi kerja, terutama dalam menghadapi tantangan generasi Z di dunia kerja.

“Penelitian saya pada saat pandemic dimana banyak membutuhkan tenaga medis. Saya meneliti tentang peran ekstra, perilaku organisasi yaitu kerelaan seseorang untuk melakukan pekerjaan, tugas meskipun itu di luar tugas pokoknya. Tetapi dia mau melakukan itu,” jelas Prof. Jati pada media, Senin (24/2/2025).

Dari penelitian tersebut muncul kesimpulan bahwa untuk bisa merangsang atau mendayagunakan karyawan dengan baik sehingga mereka mau berperan ekstra itu memang tidak bisa hanya menggunakan pertukaran ekonomi. Seperti seorang bekerja dan menerima bayaran. Tetapi lanjutnya ada pendekatan yang lain dalam ilmu perilaku yaitu social exchange.

“Misalnya bagaimana kedekatan karyawan dengan pemimpin, bagaimana kepercayaan bos kepada karyawan bagaimana komitmen karyawan, apakah memotivasi karyawan dan seterusnya. Itu akan sangat berpengaruh terhadap kemauan karyawan untuk memenuhi kinerja yang mereka inginkan bahkan melampaui itu semua,” ungkap Prof. Jati.

Prof. Dr. Muzakar Isa, SE., M.Si

Sementara itu, Prof. Dr. Muzakar Isa, SE., M.Si., menyoroti strategi pengurangan risiko bencana melalui pendekatan manajemen yang lebih efektif. Dalam penelitiannya, ia mengungkap bahwa meskipun Indonesia memiliki pengalaman lebih dari satu abad dalam menghadapi bencana, tingkat risiko tetap tinggi karena masih ada kelemahan dalam aspek kelembagaan dan koordinasi antara masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah.

Dalam upaya pengurangan risiko bencana, aspek kelembagaan masih menjadi titik lemah di Indonesia. Ia menyoroti bagaimana kurangnya aturan yang jelas dalam menghadapi bencana sering kali menyebabkan respons yang tidak efektif.

“Kita lihat saja, saat terjadi erupsi Gunung Merapi di Boyolali, banyak orang datang hanya untuk sekadar menonton atau bahkan berswafoto. Fenomena ini menunjukkan lemahnya regulasi dan koordinasi kelembagaan dalam situasi darurat,” tegasnya.

Sebagai solusi, ia menekankan pentingnya memperkuat kelembagaan dalam manajemen bencana, baik dalam perencanaan mitigasi maupun dalam respons terhadap bencana. Dengan sistem kelembagaan yang kuat, diharapkan risiko bencana dapat diminimalisir dan masyarakat dapat lebih siap dalam menghadapi berbagai ancaman.

Dengan berbagai temuan penelitian yang telah ia lakukan selama satu dekade terakhir, Muzakar Isa berharap kontribusinya dapat membantu Indonesia menjadi negara yang lebih siap dan tangguh dalam menghadapi bencana di masa depan.

“Perubahan dan ketidakpastian akan selalu ada. Sebagai akademisi, kita harus terus mengembangkan formulasi ilmiah untuk memproduksi daya tahan dan ketahanan terhadap bencana,” pungkasnya.