BERMODALKAN etalase kecil diatas meja sederhana, lengkap dengan neraca serta air raksa, pedagang emas emperan barat Pasar Legi mulai mengadu nasibnya di tengah hiruk pikuk Kota Solo. Setiap harinya para pedagang mulai menunggu penjual emas yang datang. Tempat berjualan yang identik dengan toko emas, keberadaan pedagang emas emperan merupakan alternatif bagi sebagian penjual emas.
Pedagang emas emperan, merupakan pilihan bagi mereka yang ingin menjual emasnya namun mengalami kendala seperti kerusakan, tidak memiliki surat ataupun kondisi yang tidak lengkap. Dengan peralatan sederhana itu Kusmiyati (65) salah seorang pedagang emas emperan, mengandalkan ketajaman perasaan yang ia miliki untuk mengetahui kemurnian emas.
Ia menuturkan untuk potongan emas yang tidak mempunyai surat akan dibeli dengan sistem ler-ler an (bentangan) menyesuaikan kadar yang ada untuk dihitung. Sudah berjualan selama 30 tahun, Kusmiyati menyebut tidak ada persaingan antar pedagang, baik yang berada di emperan toko maupun di toko besar. Kusmiyati menyebut modal yang digunakan bisa pinjam dari sesama pedagang emas emperan. Pendapatan yang ia peroleh tidaklah tetap, setiap harinya ia mendapatkan dagangan emas sebanyak 1 hingga 2 gram.
Meskipun sudah berpengalaman dalam membeli emas, Kusmiyati mengaku pernah ditipu penjual. Pasalnya terdapat penjual yang menjual emas tidak murni yakni sudah diganti dengan yang bukan emas. Selain itu ia juga pernah tertipu penjual yang menjual emas yang sudah dilapis sehingga tidak asli. Emas yang ia dapatkan bermacam-macam, mulai dari kondisi yang bagus hingga rusak. Jika emas alami kerusakan maka ia hanya akan membelinya dalam bentuk kleweran (juntaian).
“Kalau udah cocok udah ada untungnya nanti dikumpulkan buat dijual ke pelebur. Kalau soal hati-hati, ya harus berhati-hati dalam memilih emas dengan cara pener (lapis) emas yang didalamnya tembaga luarnya emas.” ungkap Kusmiyati saat ditemui di emperan toko barat Pasar Legi, Kamis (10/03/2022).
Kemurnian emas dapat diketahui dari ada atau tidaknya kandungan emas Antam yang sudah dilebur. Kusmiyati mengungkapkan ia tidak menerima barang curian. Berpengalaman cukup lama, ia bisa mengetahui barang curian hanya dari mengamati tingkah laku penjual.
Ia menuturkan antar pedagang saling membantu jika kekurangan dalam membayar emas penjual maka ia akan meminjam pedagang lain. Sebagai pedagang yang berjuang mengadu nasib, Kusmiyati menyebut dengan berjualan emas merupakan usaha yang menguntungkan. Ia mengaku tidak menjual hasil pembeliannya kepada masyarakat umum.
“Kalau beli nglelernya (menghitung juntaian) itu harus hati-hati. Kalau emas bagus dipisahin sama emas yang bukan asli sudah kelihatan,” tutur Kusmiyati.
Ia mengungkapkan harga yang ia berikan kepada penjual menyesuaikan dengan barang dan memungkinkan untuk mencapai kesepakatan. Harga pembelian kembali (buyback) dengan sistem yang standar tanpa ada penekanan. Mengalami pasang surut dalam berdagang, melalui jualan emas di emperan toko ini ia mampu menguliahkan ketiga anaknya hingga menjadi guru.
Identik dengan keberadaan toko emas, Kusmiyati mengungkapkan alasan mengapa banyak pedagang emas emperan yang menanti rejeki ditempat tersebut.
“Ya kalau nggak didepan toko emas nggak ada yang jual. Karena kan kalau toko besar nggak menerima, disini bisa jadi alternatif. Sudah disini (depan Pasar Legi) dari turun temurun,” pungkas Kusmiyati.








