SOLO, MettaNEWS –Saat melewati Jalan S. Parman, di utara perlintasan kereta api Gilingan, Solo tampak barang-barang bekas yang dijajakan disepanjang trotoar. Menjadi pemandangan yang sudah biasa, penjualan barang bekas ditempat tersebut telah ada sejak 1972. Di tengah kemajuan mode fashion yang terjadi setiap waktu, pedagang pakaian bekas di trotoar tersebut masih bertahan hingga kini. Dikenal dengan sebutan awul-awul, tempat ini menjual sepatu, sandal dan berbagai macam aksesoris.
Sebanyak 10 pedagang awul-awul mencari peruntungan di sepanjang trotoar setiap harinya. Dari pagi hingga dini hari, para pedagang masih setia menjajakan dagangannya. Barang yang ia jual bervariasi mulai dari Rp 1.000 sampai Rp 30.000.
Lokasi penjualan yang berada di samping jalan ini mempunyai tantangan tersendiri bagi para pedagang pakaian bekas. Salah satunya, Yeni (65) pedagang asal Jakarta yang sudah menggeluti usaha awul-awul sejak 1987. Selama 35 tahun sudah ia setia berbisnis pakaian bekas yang merupakan usaha turun temurun.Berjualan dari tahun ke tahun, Yeni mengungkapkan penjualan awul-awul tidak seramai dahulu.
“Kalau sekarang sepi. Dulu lumayan pakaiannya ada yang mahal, ada yang murah. Kalau sekarang carinya susah jualnya ya susah. Sekarang campur bagus atau enggak ya dijual. Kalau mau yang bagus modalnya gede. Uangnya ditahan buat jaga-jaga. Kalau nggak punya uang jaga-jaga kan nggak bisa,” ungkap Yeni saat ditemui disamping Jalan Cinderejo Kidul, Gilingan, Selasa (08/03/2022).
Modal yang ia milikinya bergantung pada pendapatan setiap harinya. Yeni mengaku mendapatkan barang dari tengkulak dengan sistem borongan menyesuaikan dengan pihak perorangan. Pihak penyetor membawa pakaian yang berasal dari perumahan yang tidak selalu berasal dari daerah yang sama.
Yeni mengungkapkan pembeli berasal dari berbagai macam kalangan. Seperti pedagang yang dijual kembali, orang lewat, bangkel, pelajar bahkan mahasiswa. Namun hal yang menjengkelkan baginya ketika bertemu dengan pembeli yang menawar harga tidak masuk akal. Sehingga pakaian bekas tersebut seringkali diberikan secara cuma-cuma ketika ditawar terlalu murah.
Dalam dunia awul-awul terdapat istilah bangkel. Bangkel merupakan sistem berjualan menjual barang dari satu tengkulak dengan memberikan keuntungan penjualan. Yeni menyebut pakaian yang paling laris terjual yaitu atasan laki-laki.
“Daripada dibuang di kali malah jadi masalah. Kena denda juga, jadi dijual murah aja. Meskipun penjualannya nggak tentu, kadang sehari bisa laku 5 potong lebih. Tapi kadang sehari nggak laku,” ungkapnya.
Kondisi tempat berjualan yang berada di trotoar baginya adalah sebuah resiko. Yeni menuturkan sempat di relokasi Pemerintah Kota Surakarta ke kios Pasar Ngudi Rejeki, Gilingan lantai 2, namun sepi dari pembeli. Sehingga ia memutuskan untuk kembali ke pinggir jalan. Ia menuturkan kendala berjualan salama ini terletak pada cuaca. Cuaca yang terik bisa membuat pakaian cepat usang, begitupun saat hujan akan membasahi pakaian yang ada. Sehingga ia memutuskan untuk mengemasi dagangannya saat turun hujan.
Ia menuturkan, mulai berjualan dari pagi pukul 07.00 sampai 14.00. Jika dulu ia masih mempunyai stamina yang banyak untuk berjualan hingga malam. Untuk saat ini ia memilih untuk berjualan sampai siang hari. Namun jika cuaca tidak hujan maka ia bisa berjualan hingga sore hari.
“Dulu jualan sampai malam, tidur di trotoar. Sekarang kondisinya sudah nggak kuat, takut sakit. Angin malam kan bahaya. Kena ujan dikit juga sudah gampang sakit. Daripada sakit malah nggak bisa jualan berhari-hari,” tambahnya.
Barang dangangan miliknya terdiri dari sarung, sprei, pakaian anak hingga dewasa. Yeni menuturkan tidak merasa khawatir jika menimbun banyak barang. Ia percaya bahwa semua bisa laku. Kalaupun tidak laku, pakaian akan dijual dengan ditimbang dengan mendapatkan Rp 500/kilogramnya. Barang yang mengalami kecacatan seperti sobek akan dicari pembeli untuk lap, selain itu pakaian bekas bisa digunakan untuk isian kursi dan keset.
Meskipun mengalami gempuran dari kemajuan zaman yang ada, Yeni mengaku akan terus melanjutkan usahanya hingga turun temurun kembali. Hal ini karena usaha yang ia jalani merupakan sumber pendapatan keluarga. Sehingga pendapatannya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.








