SOLO, MettaNEWS — Sambutan hangat masyarakat terhadap kedatangan Bhikkhu Thudong di Kota Solo menjadi gambaran nyata bahwa nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama masih tumbuh kuat di tengah masyarakat. Momentum tersebut hadir di tengah kabar Kota Solo yang belum masuk 10 besar Indeks Kota Toleran 2026 versi Setara Institute dan berada di peringkat ke-12 nasional.
Sebanyak 57 Bhikkhu Thudong tiba di Pura Mangkunegaran, Sabtu (23/5/2026), dalam rangkaian perjalanan spiritual menuju Candi Borobudur, Magelang, untuk memperingati Hari Tri Suci Waisak. Kehadiran para bhikkhu disambut antusias warga yang memadati sejumlah titik kirab dari Loji Gandrung menuju Balai Kota Surakarta.
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, mengaku bangga atas antusiasme masyarakat dalam menyambut para Bhikkhu Thudong. Menurutnya, kehadiran para biksu tersebut menjadi simbol bahwa Kota Solo terbuka bagi seluruh umat beragama dan kepercayaan untuk menjalankan tradisi serta kegiatan spiritual secara damai.
“Kami sangat merasa bangga sekali hari ini. Sudah lama diharapkan, akhirnya Bhikkhu Thudong bisa mampir, bersinggah, dan mengikuti kirab. Senang sekali, dan saya ucapkan terima kasih kepada warga masyarakat Surakarta yang antusiasmenya luar biasa,” ujar Respati.
Ia juga mengapresiasi seluruh petugas dan pihak yang turut menjaga kelancaran kegiatan sehingga rangkaian acara dapat berlangsung tertib dan penuh khidmat.
Menurut Respati, toleransi tidak hanya diukur dari angka atau peringkat semata, melainkan tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat saat menghormati perbedaan dan hidup berdampingan secara damai.
“Makna untuk Kota Solo, ya jelas Kota Solo ini terbuka untuk siapa pun, bagi kepercayaan dan agama apa pun untuk melakukan upacara agama, upacara adat. Silakan, kami mendukung penuh untuk dilaksanakan di Kota Surakarta dengan penuh khidmat dan penuh dengan kedamaian,” katanya.
Kedatangan Bhikkhu Thudong di Kota Surakarta dinilai menjadi pengingat bahwa toleransi adalah praktik sosial yang hidup di ruang publik. Antusiasme warga dalam menyambut para bhikkhu memperlihatkan wajah Solo sebagai kota yang ramah, terbuka, dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan lintas iman.
Respati berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar pada tahun-tahun mendatang dan menjadi tradisi yang terus memperkuat semangat kerukunan di Kota Bengawan.
“Tentunya saya serahkan kepada rekan-rekan dari tokoh-tokoh agama Buddha. Tapi memang ini berkah tahun ini, luar biasa, yang dinanti-nanti akhirnya bisa ke Solo. Apabila nanti tahun depan ada kesempatan lagi, tentunya kami sangat berharap,” pungkasnya.








