Sekali Mendayung Dua Tiga Pulau Terlampaui, Program KKN Universitas Diponegoro Cegah Pernikahan Dini Sekaligus Gizi Buruk

oleh
oleh
Mahasiswi KKN Universitas Diponegoro, Stella Regina dari Fakultas Kesehatan Masyarakat menyampaikan dampak negatif dari perkawinan pada usia anak (kurang dari 18 tahun) terhadap gizi keluarga | MettaNEWS / Puspita

SOLO, MettaNEWS – “Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui” merupakan peribahasa yang cocok untuk menggambarkan program kerja yang diadakan oleh mahasiswi KKN Universitas Diponegoro, Stella Regina dari Fakultas Kesehatan Masyarakat.

Dengan judul “Bagaimana Pernikahan Dini Mempengaruhi Pemenuhan Gizi Keluarga?”, Stella memberikan pendampingan kepada Karang Taruna Desa Langenharjo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Minggu (4/8/2024) mengenai dampak negatif dari perkawinan pada usia anak (kurang dari 18 tahun) terhadap gizi keluarga.

Program dilaksanakan dalam rangka kegiatan Kuliah Kerja Nyata Reguler dari Universitas Diponegoro yang mendukung penurunan angka stunting serta menuntaskan permasalahan pernikahan dini yang marak terjadi di Desa Langenharjo.

“Memang ada banyak kasus pernikahan dini di (Desa Langenharjo) dan ada banyak juga penyebabnya, makanya perlu diadakan program penurunan angka pernikahan dini” ungkap Bidan Desa Langenharjo, Diah Reny.

Pernikahan pada usia di bawah 18 tahun banyak terjadi di desa ini yang disebabkan oleh beragam faktor, seperti ekonomi dan pergaulan bebas.

Kegiatan dilaksanakan dalam kerja sama dengan Posyandu Remaja yang ikut serta dalam melakukan pengecekan kesehatan remaja. Cek kesehatan mencakup tinggi badan, berat badan, Lingkar Lengan Atas (LiLA), gula darah, dan asam urat.

Hadir dalam kegiatan tersebut Pelaksana Program Anak, Sarni, A.Md.Keb, memberikan sambutan pembuka kegiatan edukasi remaja. Ia juga menghadirkan pemateri dari Puskesmas Grogol yang membahas tentang kesehatan reproduksi remaja sebagai pengawal materi edukasi dari KKN Universitas Diponegoro.

Dalam sesi pemaparan materi oleh mahasiswi KKN dibahas tentang pengaruh terhadap gizi keluarga yang diakibatkan oleh pernikahan dini. Pemaparan diawali dengan informasi umum mengenai pernikahan dini dan kewajiban audiens karang taruna memiliki tanggung jawab sebagai calon orang tua untuk mencegah terjadinya perkawinan anak yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2017 Pasal 26 Ayat (1).

Pemaparan dilanjutkan dengan efek samping yang dialami oleh orang tua dan anak dari hasil pernikahan dini. Remaja yang menikah dini sering menghadapi risiko kesehatan tinggi selama kehamilan karena tubuh mereka belum sepenuhnya berkembang, sehingga dapat mempengaruhi gizi ibu dan bayi.

Terdapat faktor kekurangan pendidikan mengurangi pemahaman tentang gizi serta keterbatasan ekonomi mengakibatkan akses terbatas ke makanan bergizi. Selain itu, tanggung jawab rumah tangga yang dipikul lebih awal mengurangi perhatian terhadap pola makan sehat dan tekanan emosional dari pernikahan dini dapat mengganggu kebiasaan makan. Semua faktor ini berkontribusi pada peningkatan risiko gizi buruk dan dapat berujung pada stunting.

Stunting adalah kondisi gangguan pertumbuhan pada anak yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih rendah dari standar usia, akibat kekurangan gizi kronis. Anak dengan stunting memiliki tubuh yang lebih pendek dibandingkan anak seusianya, keterlambatan perkembangan motorik, dan kemampuan kognitif yang terhambat. Dampak jangka panjang stunting meliputi risiko kesehatan yang lebih tinggi, seperti gangguan fungsi kognitif dan produktivitas yang rendah di masa dewasa. Stunting dapat mempengaruhi kualitas hidup dan potensi masa depan anak secara signifikan.

Setelah sesi edukasi selesai, acara dilanjutkan dengan permainan menggunakan laman Kahoot yang menguji pengetahuan audiens tentang materi yang telah didapatkan. Juara 1, 2, dan 3 dari permainan diberikan hadiah berupa uang tunai kepada mereka yang mendapatkan poin terbanyak.

Untuk memastikan program dapat berkelanjutan, audiens karang taruna dibagikan selebaran yang berisikan informasi tentang materi edukasi dampak pernikahan dini terhadap gizi yang dapat dibawa pulang.

“Anak muda memegang peran penting dalam peningkatan gizi keluarga dan semuanya diawali dari ketika mereka menikah. Masih anak-anak kok sudah punya anak? Bayi dari pasangan yang menikah dini punya risiko tinggi terjadi gizi buruk, bahkan bisa berujung pada stunting”, tutup Stella.