SOLO, MettaNEWS – Sejumlah aktivis 98 berkumpul di Solo. Bersama kelompok prodemokrasi lainnya, serta pendukung Pasangan Calon Pilpres 01 dan 03. Mereka sepakat menyatu dalam gerakan melawan politikus amoral, yakni politik dinasti dan pelanggar HAM.
“Kami menyebut gerakan ini SEMPAL, artinya Solo melawan politik amoral. Gerakan ini terpicu oleh situasi Pilpres yang menjadi cacat karena tindakan-tindakan tak bermoral dan beretika,” ujar Prijo Wasono, aktivis 98 yang bertindak sebagai juru bicara Sempal, Kamis (18/1/2024).
Prijo mengaku dalam Pilpres 2024 ini mendukung pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD. Sementara itu, Budi Susanto, pendukung pasangan Anies-Muhaimin dari Partai Kebangkitan Bangsa, juga hadir dan menyatakan bergabung di Sempal.
Mewakili sekitar 50 orang yang hadir, Prijo dan Susanto menyebut situasi Pilpres yang tanpa moral dan etik dalam kehidupan demokratik, sesungguhnya dapat dikategorikan sebagai tindak kejahatan. Dan kejahatan yang tidak diganjar hukuman, akan bertumpuk dan semakin tak nampak lagi sebagai kejahatan.
Pelanggaran yang mereka sebut, di antaranya politik dinasti yang artinya sebuah kekuasaan politik oleh sekelompok orang yang masih terkait dalam hubungan keluarga.
“Hal ini jelas tidak bisa kita biarkan, karena standar moral dan etika dalam kehidupan politik yang demokratik yang diatur dengan hukum – hukum demokratik. Tentu akan rusak jika seenaknya berubah demi kepentingan keluarga untuk tetap berkuasa,” ujar mereka.
Prijo berterus terang menyebut akrobat politik Presiden Jokowi tanpa moral dan etika dalam upaya menjadikan anaknya, Gibran Rakabuming Raka sebagai penerus kekuasannya melalui berbagai cara. Sampai puncaknya adalah mengganti aturan Pemilu melalui Mahkamah Konstitusi
hingga anaknya bisa lolos sebagai cawapres.
Hal lain yang mendapat sorotan dari Sempal soal Capres 02, Prabowo Subianto yang memiliki catatan pelanggaran HAM di masa lalu. Presiden Jokowi pernah berjanji menyelesaikan masalah pelanggaran HAM, namun janji itu tak pernah terpenuhi.
Bahkan, sekarang Prabowo justru masuk dalam jajaran Kabinet Jokowi. Dan lebih parah lagi, di akhir Periode, Jokowi justru secara terang – terangan dalam tindakan politiknya jelas jelas memberikan dukungan kepada Prabowo sebagai capres dan anaknya, Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapresnya.
Untuk merespon situasi politik semacam itu, Sempal menyerukan masyarakat agar menarik garis demarkasi tegas antara kekuatan politik bermoral dengan kekuatan politik yang tidak bermoral dan tanpa etika.
Selain itu, juga berani memberikan sanksi moral dengan tidak memilih pasangan capres dan cawapres nomor urut 02 sebagai wujud dari politik amoral (politik dinasti dan Capres pelanggar HAM).
Terakhir, Sempal ingin mendorong Pilpres yang adil, transparan dan beretika. Mereka pun berharap kekuatan pendukung Paslon 01 dan 03 bersatu melawan kekuatan politik hitam yang tidak bermoral dan beretika.








