SOLO, MettaNEWS – Fenomena gunung es, Indonesia menempati posisi ke 5 di dunia untuk penderita Diabetes terbanyak. Masyarakat menyebut penyakit Diabetes Melitus (DM) ini adalah sakit gula atau kencing manis.
Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Cabang Surakarta, dr Eva Niamuzisilawati SpPD KEMD Mkes FIASIM, mengatakan selain menempati rangking 5 dunia dari 10 negara. Pada 2045 diprediksi jumlah penderita akan meningkat sangat pesat hingga 75%.
“Masyarakat harus mengetahui bahwa Diabetes Melitus ini tidak bisa sembuh. Dan penyakit ini menjadi sumber segala penyakit lainnya. Tidak bisa disembuhkan tapi bukan penyakit menular dan bisa kita kendalikan dengan penanganan yang tepat,” jelas dr Eva Niamuzisilawati pada kegiatan memperingati Hari Diabetes Sedunia yang berlangsung di halaman De Tjolomadoe, Colomadu, Minggu (26/11/2023).
Dokter Eva mengatakan tingginya angka penderita DM ini menjadi tanggung jawab semua pihak untuk betul-betul bisa menurunkan angka penderita.
“Yang kami terus lakukan adalah Tindakan pencegahan. Jangan sampai terkena sehingga harus berobat karena tidak bisa sembuh, hanya bisa kita kendalikan. Jadi lebih baik kita berusaha keras untuk mencegah,” tegasnya.
Eva mengungkapkan seseorang bisa terjangkit DM karena beberapa faktor. Mulai dari faktor risiko genetik hingga gaya hidup.
“Faktor risiko yang sering menjadi hal yang kadang tidak dipertimbangkan oleh masyarakat selain risiko genetic atau keturunan adalah pola hidup yang buruk. Apalagi post Covid ini angka jadi meningkat, banyak work from home terbawa sampai saat ini. Tidak mau olahraga sehingga menimbulkan obesitas. Padahal obesitas ini potensi ke arah Diabetesnya sangat tinggi,” bebernya.
Dokter spesialis penyakit dalam ini menyarankan masyarakat untuk melakukan screening kesehatan secara rutin minimal 1 tahun sekali. Terlebih bagi yang mempunyai faktor risiko keturunan, obesitas, hipertensi, penyakit jantung dan kista.

Pada peringatan Hari Diabetes Sedunia, Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Cabang Surakarta menyelenggarakan kegiatan bersama se-eks karesidenan Surakarta dengan 3000 peserta. Kegiatan berupa senam DM bersama, talk show kesehatan, pameran dan screening kesehatan gratis. Acara ini juga sebagai bentuk kegiatan edukasi dan meningkatkan wawasan kesehatan. Serta kewaspadaan yang lebih dini adanya DM yang semakin meningkat jumlahnya.
Dokter Spesiali Penyakit Dalam, dr. Yulia Sekarsari Sp.PD FINASIM, mengungkapkan Diabetes adalah ibu dari semua penyakit.
“Diabates sebagai ibunya penyakit. Karena dari DM ini bisa menyebabkan penyakit lain dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jadi komplikasinya makrovaskuler biasanya diabetes dengan stroke, serangan jantung, dengan kaki yang sudah luka. Kalau yang mikrovaskuler biasanya menyerang mata, jadi penglihatan buram, air kecing berbusa dan banyak,” paparnya.
Dokter Yulia mengatakan masyarakat harus aware dengan Diabetes karena risiko yang luar biasa.
“Jadi beban Pemerintah untuk menangani pasien Diabetes itu cukup besar. Jadi harapannya jangan kita mencegah kalau sudah kejadian. Tetapi harapannya jangan sampai terjadi Diabetes. Termasuk kegiatan seperti ini untuk orang awam bisa menjadi edukasi pencegahan,” tegasnya.
Tidak hanya orang yang sudah tua, Yulia mengatakan anak-anak muda juga banyak yang terkena Diabetes. Yulia menyebut banyak anak muda usia 20 tahun ke bawah sudah banyak yang terdiagnosis Diabetes.
“Ini termasuk peringatan buat kita. Program Pemerintah termasuk di RSUD Moewardi, Solo aka nada program Diabetes Center. Ini program dari Kemenkes untuk seluruh Indonesia. Kita harapkan ini akan berkembang memunculkan awarnes masyarakat terutama Solo sekitarnya supaya kita tidak lagi mengobati Diabates tetapi mencegah jangan sampai terkena,” pungkasnya.








