Perayaan Hari Batik, Buruh Gendong Pasar Gede Dapat Kesempatan Cek Kesehatan Kulit dan Tulang

oleh
Hari Batik
Buruh gendong Pasar Gede menjalani pemeriksaan kesehatan kulit dan tulang saat Hari Batik Nasional, Senin (2/10/2023) di Puskesmas Purwodinigratan | Magang UMN / Stanley Novalino

SOLO, MettaNEWS – Sejak ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Hari Batik Nasional, tanggal 2 Oktober menjadi hari di mana masyarakat Indonesia berbondong-bondong menggelar acara.

Di Kota Solo, perayaaan Hari Batik dilakukan dengan kegiatan berbudaya menari dengan mengenakan busana batik bersama para buruh gendong di Pasar Gede Solo. Perayaan juga diwarnai dengan pengecekan kesehatan tulang dan kulit.

Kegiatan ini diinisiasi Republik Aeng Aeng dengan mengajak pengurus komunitas KAGAMA Beksan wilayah Solo dan sekitarnya. Serta komunitas dokter berkesenian  Gema STOVIA Nusantara.

“Kami ke depankan esehatan umum dengan Puskesmas Purwodiningratan dengan program mereka usaha kesehatan kerja bersama teman-teman dari perdoski dan KSM DVE RSUD dr Moewardi / FK UNS,” ujar perwakilan KAGAMA Beksan dan Gema Stovia Nusantara, dr Puspita, Senin (2/9/2023).

Ia menyebut tujuan dari acara ialah agar  para buruh gendong dapat mengetahui masalah kesehatan kulit dan kesehatan tulang.

“Kalau dari sektor kesehatan melihat bahwa para buruh gendong itu kan sebetulnya perempuan yang bekerja di sektor informal dan hal itu merupakan pekerjaan pria karena angkat berat. Tapi secara secara turun temurun ini menjadi tradisi yang banyak perempuan bergabung dengan para pria di sektor ini, tentu banyak kendala dalam pekerjaan ini seperti kesehatan tulang dan persendian mereka,” ujarnya

Sebanyak 47 buruh gendong dilibatkan dalam acara ini. Setelahnya akan dilakukan screening untuk pemetaan apakah para buruh gendong terdampak pekerjaannya.

“Ini serius jadi akan dibawa oleh para dokter yang meriksa ini untuk dirangkum diberikan kepada para pimpinannya di masing-masing institusinya. Mudah-mudahan ada semacam mediasi,” terangnya.

Para buruh gendong pun tidak perlu membayar, pihaknya juga sudah menyiapkan rujukan ke puskesmas sesuai dengan domisili dari para buruh gendong ini apabila diperlukan.

“Ini sifatnya hanya konsultasi saja jadi tidak ada obat, jika diperlukan sesuatu kami sudah membuatkan sistem rujukan ke puskesmas atau faskes dimana para buruh gendong itu berdomisili, kelihatan nya semua sudah anggota BPJS atau KIS,” kata dia.

Dengan cara ini, diharapkan para buruh gendong dapat mengenal Hari Batik Nasional dan melestarikan kebudayaan batik sebagai  kekayaan budaya Indonesia.

“Batik yang merupakan kekayaan budaya Indonesia yang tidak ternilai dan itu tampaknya perlu kerja keras karena tidak semua orang memahami itu termasuk para buruh gendong . Sehingga hari ini kita bagikan betul kain batik dari beberapa donatur,” pungkasnya. (Magang UMN & UIN Solo / Stanley – Galih).