Tak Melulu Orang Miskin, Dari 1.991 Anak di Kota Solo yang Putus Sekolah Ternyata Juga Ada Anak Orang Kaya

oleh
anak putus sekolah
Focus Grup Discussion (FGD) strategi penanganan anak tidak sekolah dan anak putus sekolah Dinas Pendidikan Kota Solo di Grand HAP Hotel, Jumat (9/6/2023) | Dok Disdik Kota Solo

SOLO, MettaNEWS – Dinas Pendidikan Kota Solo kian mematangkan program “Ayo Sekolah Lagi Cah Solo Kudu Pinter”. Lewat Forum Grup Discussion (FGD), Dinas Pendidikan mulai menyusun strategi penanganan anak tidak sekolah dan anak putus sekolah di Grand HAP Hotel, Jumat (9/6/2023).

Terhitung sejak tahun 2017, ada 1.991 anak yang tidak sekolah maupun putus sekolah. Saat ini pihaknya akan mendorong 251 anak yang sudah masuk dalam BNBA (By Name By Address).

“Sementara follow up awal dari data yang sudah ada ada yang tidak mau, kita coba kasih kuisoner mau sekolah lagi apa enggak. Apa yang dirasakan apa yang diinginkan. 60 persen itu nggak mau sekolah jadi dibuatlah pertemuan hari ini,” papar Kepala Dinas Pendidikan Kota Solo, Dian Rineta.

“Karena kalau sudah seperti itu kita nggak bisa jalan sendiri butuh dukungan pentahelix salah satunya media jadi tersampaikan edukasi bahwa edukasi itu penting,” sambungnya.

Kurangnya dukungan dan motivasi orangtua ikut menjadi faktor anak tidak mau sekolah maupun putus sekolah di Kota Solo. Terlebih bagi anak-anak yang miliki pengalaman buruk tentang bullying hingga hamil di bawah umur.

“Ya merasa orangtuanya juga nggak perhatian anaknya nggak mau yasudah. Malu masih takut karena bullying kalau yang takut karena bullying kita masih optimis ya. Karena kita akan bersama psikolog,” terangnya.

Dinas Pendidikan bersama psikolog telah memetakan bentuk sekolah bagi anak-anak korban bullying. Begitupula bagi mereka yang hamil, mereka diberi kesempatan untuk melahirkan terlebih dahulu.

“Solusinya home visit, kita akan turunkan 60 persen itu kita cari dulu penyakitnya apa sehingga nanti obatnya akan mengenai. Jadi nanti kita akan edukasi akan kita motivasi kita turunkan psikolog dengan bantuan RT RW kelurahan dan PKK,” jelas Dian.

Butuh Peran Orangtua untuk Tumbuhkan Motivasi Anak Putus Sekolah

Peran orang di sekitar anak juga berperan besar dalam memotivasi anak agar mau sekolah lagi. Dinas Pendidikan Kota Solo pun telah menyiapkan berbagai model pembelajaran.

“Kita siapkan semua sampai lini terkecil face to face hanya satu tutor kita siapin. Nggak mau ketemu orang online jadi nggak ada alasan semua anak harus sekolah. Model pembelajaran kita penuhi juga keinginannya seperti apa,” katanya.

Kecamatan Banjarsari menjadi peyumbang terbesar anak putus sekolah di Kota Solo. Mengingat kecamatan yang satu ini miliki Kawasan yang lebih besar ketimbang empat kecamatan lainnya. Bahkan tidak melulu masalah ekonomi, Dinas Pendidikan Kota Solo menemukan fakta bahwa anak orang kaya juga putus sekolah.

“Anak orang kaya ada juga yang putus sekolah entah apapun penyebabnya, dia butuh bicara berkomunikasi,” katanya.

Pihaknya pun optimis program ini dapat berjalan di tahun 2024 sesuai dengan keinginan Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka.