SOLO, MettaNEWS – Kasus penahanan ijazah menghantui lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta di Kota Solo.
Kali ini salah seorang alumni SMK Muhammadiyah 3 Solo bernama Federico Alvero Sambodo menyampaikan aduannya ke Unit Aduan Layanan Surakarta (ULAS).
Dalam aduan tersebut Federico melaporkan bahwa ia kesulitan memfotocopy ijazah yang ditahan pihak sekolah lantaran belum membayar uang sekolah.
“Lapor Mas Wali: Federico Alvero Sambodo. Bagaimana cara laporan ijazah SMK ditahan mau minta fotocopy ijazah saja harus bayar full,” tulis Federico dalam aduan bernomor ID. 2023005407 pada Rabu (26/4/2023).
Kasus penahanan ijazah acap kali terjadi pada saat momen kelulusan. Penyebabnya kebanyakan lantaran siswa memiliki tunggakan pembayaran di sekolah.
Salah seorang siswa bernama Krisna Aji Pramudya juga mengalami hal yang serupa. Krisna lebih dulu mengirim aduan ke ULAS pada 26 Februari 2023.
“Assalamualaikum pak Gibran selamat sore pak maaf mengganggu waktunya. Sebentar sebelumnya perkenalkan saya Krisna Aji warga Solo yang sekarang berstatus mahasiswa di Universitas ‘Aisyiyah Surakarta,”.
“Mohon maaf bapak sebelumnya pak kan saya juga baru masuk tahun ini kuliah nya nggih pak. Untuk keperluan administrasi pihak kampus meminta ijazah saya sedangkan ijazah saya masih ditahan oleh pihak SMK,”.
“Karena adanya kekurangan biaya waktu dulu waktu pandemi saya ditinggal ayah saya meninggal. Jadi untuk masalah biaya sekolah jadi sering terlambat sampai menunggak untuk pembayaran SPP-nya,”.
“Karena jualan juga agak sepi pak waktu itu dan ibu saya hanya seorang pedagang kecil pak masih membiayai adek saya sekolah juga. Mohon maaf sebelumnya pak apakah bapak bisa membantu saya untuk mengeluarkan ijazah saya pak. Soalnya saya kuliah juga pakai beasiswa KIP kuliah,”.
“Sedangkan biaya hidup saya, saya pake buat membayar kekurangan di SMK pak jadi saya tidak memakai uang saku dari beasiswa tersebut. Jika boleh dibantu nggih pak terima kasih sebelumnya, wassalamu’alaikum,” aduan Krisna Aji dalam ULAS.
Cabdin Pendidikan Wilayah VII Jateng Minta Sekolah Ada Kebijakan Khusus
Aduan penahanan ijazah ini kemudian mendapat respon dari Kasi Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan Wilayah VII Jawa Tengah, Pangarso Yuliatmoko.
Menurut Pangarso, Cabdin telah menindaklanjuti aduan tersebut dengan pihak sekolah untuk dikomunikasikan terkait permasalahan ijazah tersebut kepada yang bersangkutan.
Pihaknya juga mengimbau pihak sekolah swasta untuk memberikan kebijakan khusus bagi siswa yang kurang mampu terkait biaya sekolah.
“Cabdin selalu memberikan arahan untuk arahan kepada sekolah swasta untuk memberikan kebijakan khusus bagi siswa yang kurang mampu terkait biaya sekolah,” ujar Pangarso kepada MettaNEWS, Jumat (28/4/2023).
Meski demikian pihaknya juga tidak bisa memaksa pihak SMK swasta terkait penahanan ijazah ini.
“Tapi juga Cabdin tidak bisa memaksa SMK swasta semua harus gratis karena salah satu sumber biaya operasional sekolah dari peran serta masyarakat,” ungkapnya.
Meski kasus penahanan ijazah kerap terjadi di sekolah swasta. Pihaknya tetap mewanti-wanti agar semua SMA/SMK negeri juga tidak melakukan pungutan dalam proses pengambilan ijazah bagi siswanya yang telah lulus.
Sebab proses penulisan hingga blangko ijazah SMA/SMK negeri sudah sekolah tanggung melalui Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
“Jadi kami tegaskan untuk semua Kepala SMA/SMK se Surakarta, tak ada pungutan pengambilan ijazah. Jangan bebankan masyarakat, apalagi ekonomi sedang susah saat Pandemi ini,” tegasnya.







