SOLO, MettaNEWS – Guru Besar dari Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof. Mohamad Harisudin menyampaikan rasa prihatin atas dinamika yang tengah terjadi di kampusnya.
Haris menilai cuitan-cuitan di media sosial terkait pemilihan rektor UNS membuat Inspektorat Jenderal Kemendikbud Ristek akhirnya datang ke UNS.
“Jadi setelah pilihan rektor selesai itu ada suara-suara di medsos, Twitter ya kalau tidak salah. Itu yang mungkin menjadi akhirnya Irjen harus datang ke Solo. Itulah sebenarnya pintu, koyak pandoranya dari situ,” kata Harisudin di UNS, Selasa (4/4/2023).
Menurut Harisudin, temuan Irjen adalah sesuatu hal yang valid.
“Kami meyakini temuan Irjen itu valid. Tapi kami juga tidak tahu isi dari temuan tersebut. Irjen selama 17 hari mengulik dan bertanya terkait isu-isu yang berkembang,” jelasnya.
Sebagai akademika dan pihak netral, Prof. Harisudin menyayangkan kejadian yang menimpa UNS ini. Harisudin juga tidak mau mengomentari terkait turunnya Permendikbud tersebut.
“Saya tidak mau berkomentar. Karena saya tidak tahu temuannya apa. Yang tahu pasti bu Irjen apa temuannya itu yang sampai pada menteri. Jadi kalau Permendikbud tersebut keluar menurut mereka setidaknya ada 4 ayat yakni PPMWA nomor 2, 3, 7 dan 8,” tandasnya.
Prof. Harisudin Sebut Peristiwa UNS Jadi Pembelajaran Bersama
Harisudin menyampaikan dengan kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi kampus lain di Indonesia. Juga sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil berbagai langkah dan keputusan kedepannya.
“Saya secara personal, pribadi sempat merasa kok UNS jadi seperti ini. Ini mungkin juga menjadi pelajaran untuk seluruh di Indonesia malahan. Jadi kalau melakukan apa akan ada resiko contohnya seperti ini,” paparnya.
Meskipun belum kondusif, Prof. Harisudin mengatakan tidak mempengaruhi secara akademik. Dan kegiatan kampus tetap berjalan seperti biasa.
“Tidak lah. Besok Sabtu wisuda juga berlangsung. Hari ini saya menguji juga. Itu mungkin hanya administratif saja. Saya pikir dosen sudah profesional tahu tugasnya masing-masing. Kalau dosen jadi terganggu itu tidak profesional,” ujarnya.
Harisudin menyerahkan semua proses pada kementerian akan berlanjut seperti apa.
“Saya serahkan pada pak menteri saja bagaimana mengambil kebijakan. Tapi saya harap ini tidak menjadi hal yang sifatnya memanas. Monggolah muncul wise dari semuanya. Karena ini adalah sebuah keluarga UNS. Ya kalau misalnya salah hukumannya tidak sampai.fatal banget. Ya salah ayo berhenti dan perbaiki bersama-sama. Karena ini rumah besar kita bersama,” harap Harisudin.








