Duh! Logo HUT ke-278 Kota Solo Dikatakan Plagiat Logo Slank, Juri Buka Suara

oleh
Logo
Pemenang logo HUT ke-278 Kota Solo (kanan), logo grup musik Slank (kiri) | Dok Twitter

SOLO, MettaNEWS – Beberapa waktu lalu Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka telah mengumumkan desain logo HUT ke-278 Kota Solo lewat akun sosial media Instagram @gibran_rakabuming dan Twitter @gibran_tweet.

Lewat akun tersebut warga asal Kendal Jawa Tengah bernama Achyal Munif terpilih sebagai pemenang lomba desain logo HUT ke-278. Achyal yang saat ini tinggal di Kalimantan itu berhasil mengalahkan 805 peserta dari berbagai daerah se-Tanah Air dalam lomba kali ini.

“Pemerintah Kota Solo mengucapkan terima kasih atas partisipasi peserta lomba desain Hari Jadi  ke-278 Kota Solo dari berbagai daerah di Indonesia hingga mencapai 805 karya,” cuit @gibran_tweet.

Namun sayangnya beberapa netizen menilai logo yang terpilih mirip dengan logo grup musik Slank. Karya warga Kendal itu pun akhirnya dinilai tak orisinil dan terkesan menjiplak.

“Nge-slank banget,” cuit @garisdepan15.

“Mirip logo slank, ga jd masalah tu kedepannya??,” cuit @cassanofamilyy.

“Yang menang juara 1, penggemarnya Slank,” cuit @o_ndugal.

“Slankers. 🦋,” cuit @sonydwias.

“Koyo logo Slank,” cuit @Adyln_Adlan.

Salah satu anggota tim juri lomba desain logo Hari Jadi ke-278 Kota Solo, Irfan Sutikno pun angkat bicara.

“Persepsi itu bisa macam-macam, ada kemiripan wajar saja tapi kalau disandingkan jelas berbeda, kriteria penjurian yang pertama secara jelas dan tekun bahwa logo itu menunjukkan susunan huruf 278,” ujar Irfan ketika dihubungi MettaNEWS, Rabu (21/12/2022).

“Mau didesain bagaimanapun kalau akhirnya mempersulit untuk membaca angka, menunjukkan HUT yang ke-278 ya bukan merupakan prioritas,” tambahnya.

Ada 3 kriteria penilaian logo HUT ke-278 Kota Solo. Pertama logo harus mampu mempresentasikan dengan mudah angka Hari Jadi ke-278 Kota Solo yang akan jatuh pada 17 Februari 2023.

Kedua, aspek estetika yakni ketika logo tersebut ditempatkan di media apapun bukan saja akan nampak bagus tapi juga sekaligus membuat media yang ditempel menjadi lebih indah.

Ketiga originalitas atau karya yang orisinil. Di mana kreator membuat logo tersebut murni dari hasil karya sendiri.

“Misalnya saja ditempel di mug, kaos, tas dan media lainnya logo itu bisa ngblend dengan baik. Originalitas artinya kalau hasil dari jiplakan atau menyadur atau menduplikasi ya gugur, makanya kemarin kita uji publik untuk mengetes unsur originalitas,” terangnya.

Irfan merupakan tim juri yang juga menilai lomba desain maskot Rajamala dan Solo Spirit of Java. Menurutnya baik ketiga lomba desain ini sama-sama menggunakan uji publik. Sehingga masyarakat umum pun dapat menilai apabila karya tersebut masuk plagiarisme.

“Sebelumnya kita melombakan maskot Rajamala desain ulang logo Solo Spirit of Java, setelah itu HUT Solo. Semuanya melalui uji publik untuk melakukan tes apakah karya tersebut original atau enggak, bagaimana persepsi publik atas karya tersebut, setelah uji publik kemarin tidak ada yang menunjukkan bahwa karya itu duplikat,” tegasnya.

Irfan dan tim juri lainnya pun yakin bahwa logo yang terpilih merupakan karya yang terbaik untuk dipersembahkan untuk Kota Solo. Terlebih dalam hal ini Wali Kota Solo, Gibran juga ikut memberikan masukan.

“Penilaian ketat karena berhadapan dengan masyarakat banyak jadi kita harus tegas, jelas dan konsisten. Nuansa logo ini lebih ke modernitas menonjolkan aspek lokal tetap tapi lokalitas yang tampil dalam format kekinian, lokal Solo tidak selamanya harus keris, motif batik,” tutupnya.