Archetype 6.0, Sajian Lukisan dan Instalasi Interaktif Berkonsep Mental Health yang Ngena Banget

oleh
Pameran
Galeri Archtype 6.0 di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo, Minggu (23/10/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Pameran Archetype Art Exhibition of Psychology edisi 6.0 kembali menyita perhatian kawula muda. Pameran ini konsisten mengusung konsep mental health. Berkolaborasi dengan Ruang Atas, di tahun 2022 Archetype 6.0 mengusung tema AION “Fight It or Control It”.

Pameran ini berlangsung selama 3 hari dari 21-23 Oktober 2022 di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo. Dibuka dari jam 10.00 hingga 20.00 WIB, pameran ini menghadirkan beberapa seniman dari Solo, Malang, Purwokerto hingga Lampung.

Koordinator Galeri Archetype 6.0, Abigail Briza Hariyana mengatakan ada 3 subtema yang diusung pada pameran tahun ini. Yakni Switch Action, Pahami dan Sadari dan Ouroboros : The Repeated Cycle.

“Switch Action mengisahkan tentang lingkaran setan yang seringkali ada di sekitar kita, misalkan kita dibully dan kita akan jadi pembully. Sebut saja jika orangtu pingin anaknya jadi dokter. Ketika orang abbusive itu di generasi selanjutnya dia akan abbusive atau hal hal yang sederhana di sekitar kita,” terang Abigail, Minggu (23/10/2022).

Tema ini membawa pesan agar anak muda dapat sadar dan keluar dari lingkaran buruk tersebut. Adapun subtema Switch Action menekankan pada bagaimana keluar dari lingkaran setan dengan melakukan aktivitas.

“Misal dengan healing atau hal-hal yang lain nggak harus mengikuti atau terjebak di dalam lingkaran tersebut dan di dalam pameran ini tidak hanya ada karya lukisan tapi juga ada intstalasi interaktif,” terangnya.

Archtype 6.0 memamerkan 51 lukisan dan 4 instalasi media interaktif yang memiliki daya tarik berbeda. Salah satunya pohon harapan. Pengunjung dapat menulis buah pikirannya pada selembar kain yang kemudian digantung di dahan pohon. Tulisan tersebut bisa saja terwujud sesuai harapan si penulis.

“Media interaktif sendiri kita punya beberapa terutama ada one two three action atau bisa menaruh harapan dan apay g ingin dibicarakan disebuah pohon,” katanya.

“Media interaktif dari setiap seniman punya ciri khas yang unik. Seperti di depan itu ada es monster namanya jadi dengan seniman dengan nama Chairuk Imam salah satu seniman yang karyanya sudah terpajang karya di mana saja membuat karya yang kuat,” katanya.

Setiap lukisan maupun instalasi dibubuhi keterangan yang bisa dibaca pengujung. Sehingga pengunjung dapat memahami cerita di balik karya. Ditambah setiap karya tersebut disertakan satu guide untuk menjelaskan.

“Karya-karya ini bisa menjadi tempat spot foto. Melalui setiap wahana kita ingin semua pengunjung sadar akan adannya peristiwa yang telah kita lalui. Dan yang terpenting dari karya ini kita ingin menunjukkan bahwa kitabberpihak pada kesehatan mental,” ujar Abigail.

Abigail menceritakan subtema Ouroboros : The Repeated Cycle merupakan hal-hal yang ada di sekitar kita. Dalam subtema ini karya yang dibuat dalam media koran maupun buku yang mengisahkan kekerasan bullying.

“Di sebelah kiri ada karya dari teman-teman dengan ganggu jiwa. Ada juga banding note book atau membuat note book dengan cara mozaik montase. Ada lagi tatto temporaari  yang bisa bertahan 2 minggu. Kemudian disebelahnnya ada drawing biasa aja atau bisa menggambarkan wajah kamu,” terang Abigail.

Untuk menampilkan sajian galeri yang menakjubkan ini, pihak penyelanggara harus membuat persiapan selama 8 bulan. Persiapan yang terhitung cukup lama dan mampu terbayarkan dengan maha karya yang apik.

“Seringkali kita salah persepsi bahwa melukis dengan car air itu memerlukan teknik sendiri dan kertas yang tepat. Tapi di sini kita membuka pemikiran baru dengan mengadakan workshop. Selain itu ada ruangan yang dapat menjelaskan bahwa apa yang kamu ceritakan dapat dibuat menjadi stiker yang digambar langsung oleh senimannya,” ujar Abigail.