Mengenang Tepat 20 Tahun Bom Bali I, Tragedi Kemanusiaan di Pulau Dewata

oleh
oleh
Monumen Bom Bali
Sejumlah wisatawan menikmati malam di Monumen Bom Bali di kawasan Legian, Kuta, Bali | MettaNews/Anang Rahmat Wiratmo

BALI, MettaNEWS – Rabu (12/10/2022) hari ini, tepat 20 tahun lalu serangkaian ledakan besar mengguncang pulau Bali. Dua ledakan awal terjadi sekitar pukul 23.05 WITA di Paddy’s Çlub dan Sari Club di Jalan Legian, Kuta, Bali. Disusul ledakan yang lebih kecil di Konsulat Jenderal Amerika Serika di Renon, Denpasar.

Ledakan bom itu membunuh 203 dan melukai lebih dari 200 orang lainnya. Korban terbanyak adalah turis asing warga Australia sebanyak 88 orang, ditambah dari Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Afrika Selatan, dan sejumlah warga Indonesia.

Kasus itu kemudian disebut kasus Bom Bali I, yang pelakunya kelompok teroris jaringan Jamaah Islamiyah. Butuh waktu beberapa bulan bagi polisi untuk menangkap para pelakunya. Mereka adalah Imam Samudera, Amrozi, Ali Imron, Ali Gufron dan Dr Azahari.

Pariwisata Bali sangat terdampak dari kejadian tersebut, terlebih pada 1 Oktober 2005 kembali dua bom meledak di Jimbaran. Korban tewas memang lebih sedikit, 23 orang. Tapi trauma yang belum sepenuhnya sembuh dari serangan teror pertama, membuat Bali makin terpuruk.

Pemerintah Indonesia waktu itu sempat membuat kebijakan menggeser sejumlah hari libur nasional, agar berimpitan dengan akhir pekan. Dengan begitu, ada waktu berwisata ke Bali, menggantikan wisatawan mancanegara yang lama absen.

Kondisi sekarang, Bali baru menggeliat bangun, setelah selama dua tahun lebih pariwisata yang menjadi nadi kehidupan di sana, kembali kolaps karena pandemi Covid-19. Turis mancanegara marak, mendahului perhelatan internasional G 20 bulan November mendatang.

Di ruas Jalan Legian, sekelompok turis tampak menikmati malam di seputar Monumen Bom Bali yang sengaja dibangun untuk mengenang para korban.

“Saya masih bisa membayangkan kengerian waktu itu dari melihat daftar nama korban ini. Berharap jangan ada lagi kekerasan apalagi terorisme di Bali,” ujar Ayla, wisatawan asal Solo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *