SOLO, MettaNEWS – Angka inflasi di Kota Solo lebih tinggi dari Jawa Tengah dan Nasional. Pada September 2022 inflasi di Solo tercatat sebesar 1.30 persen.
Dari data Badan Pusat Statistik Kota Surakarta tingginya inflasi dipicu kenaikan harga BBM pada September lalu.
Kenaikan BBM otomatis mengerek harga berbagai komoditas di pasar.
Kepala BPS Kota Surakarta, Totok Tavirijanto menyebut angka inflasi ini menjadi puncak kedua setelah April lalu, sebesar 1,47 persen.
“April lalu karena ada gejolak minyak goreng dan gas. September ini tinggi lagi karena kenaikan harga BBM. Padahal Agustus lalu sempat deflasi, minus 0.06 persen,’ terang Totok.
Kenaikan BBM menyebabkan sektor transportasi menyumbang inflasi cukup tinggi yakni sebesar 9.20 persen.
Dari sektor transportasi disebabkan 4 sub kelompok yaitu pengoperasian peralatan transportasi pribadi, jasa angkutan penumpang, pembelian kendaraan, dan jasa pengiriman barang.
Dari keempat sub tersebut kelompok pengoperasian peralatan transportasi pribadi mengalami inflasi tertinggi. Khususnya, komoditas bensin. Inflasinya sebesar 24,46 persen. Dengan andil inflasi sebesar 1,06 persen.
“Sub jasa angkutan antarkota juga cukup tinggi menyumbang sebesar 6,58 persen dengan andil inflasi 0,02 persen. Dilanjutkan tarif kendaraan roda empat online juga inflasi dengan andil 0,0174 persen. Tarif kendaraan roda dua online, inflasi 0,016 persen. Juga terjadi di kereta api dan tarif kendaraan travel. Jadi hampir di semua angkutan mengalami peningkatan,” tegasnya.
Totok menyebut yang tidak mengalami peningkatan hanya angkutan dalam kota.
“Angkutan dalam kota di Solo dapat subsidi dari Pemerintah Kota dan Provinsi sehingga tidak terjadi kenaikan tarif. Kebijakan subsidi ini cukup mengerem laju inflasi,” kata Totok.
Angka inflasi 1.30 persen ini membuat inflasi dari Januari – September 2022 di So sebesar 6.49 persen. Dan inflasi year on year (yoy) September 2021-September 2022 sebesar 7,84 persen. Angka ini diklaim relatif lebih tinggi dibandingkan Jateng yang September ini mengalami inflasi sebesar 1,19 persen. Dengan tingkat inflasi year on year sebesar 6,40 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 5,11 persen.
“Ini juga lebih tinggi dibandingkan nasional, yang September ini inflasinya sebesar 1,17 persen. Dengan inflasi tahun kalender sebesar 4,84 persen. Dan year on year sebesar 5,95 persen,” imbuhnya.
Dari enam kota di Provinsi Jawa Tengah yang dihitung angka inflasinya, semua kota terjadi inflasi. Tertinggi di Kota Kudus sebesar 1,65 persen, Kota Solo sebesar 1,30 persen, Kota Purwokerto sebesar 1,15 persen, Kota Semarang sebesar 1,13 persen, Kota Cilacap sebesar 1,11 persen, dan Kota Tegal sebesar 1,09 persen.
Menanggapi tingginya inflasi, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka akan melakukan evaluasi dengan TPID.
“Nanti kita evaluasi. Soalnya bulan ini juga banyak sekali event. Mungkin penyebabnya pangan juga,” tutur Gibran.
Gibran menjelaskan rencananya akan ada operasi pasar dan bantuan-bantuan sembako pada masyarakat yang membutuhkan.
“Kemarin sudah saya perintah operasi pasar untuk sembako di 5 kecamatan dan 54 kelurahan,” ujar Gibran.








