SOLO, MettaNEWS – Peletakan batu pertama revitalisasi Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Jebres Solo dilakukan hari ini, Sabtu (13/8/2022). Desain engingering detail (DED) dipaparkan pihak Yayasan Konservasi Margasatwa Indonesia dihadapan Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, jajaran Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Direktur Utama TSTJ Bimo Wahyu Widodo dan jajaran Pemerintah Kota Solo, Ketua Yayasan Konservasi Margasatwa Indonesia (YKMI) Agus Santoso.
Acara ini juga diisi dengan pemberian piagam penghargaan adopter satwa kepada Presiden Dit]rektur PT Sido Muncul, pendiri PT. Djerapah Megah Plasindho Irawan Andry Sumampow, CEO PT Solo Murni Rio Haryanto. Selain itu piagam penghargaan peduli konservasi satwa juga diberikan kepada Bank BNI dan Bank Jateng.
Dirjen Pengelolaan Hutan Lestari KLHK, Agus Justianto mengatakan TSTJ telah mendapatkan izin dari Kementerian sebagai lembaga konservasi dalam bentuk taman satwa sesuai dengan surat keputusan menteri Kehutanan 116/2012 sebagai lembaga konservasi.
“TSTJ mempunyai fungsi utama sebagai tempat pengembangbiakan terkontrol dan atau penyelamatan tumbuhan dan satwa liar dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya, selain fungsi utama tersebut lembaga konservasi juga mempunyai fungsi sebagai tempat pendidikan,” kata Agus, Sabtu (13/8/2022) di Taman Balekambang.
TSTJ memiliki 77 jenis satwa lokal maupun luar yang nantinya bisa dikonservasi secara eksitu dan insitu. “TSTJ diharapkan mampu membantu pemerintah dalam menyelamatkan jenis-jenis satwa yang dilindungi dan terancam punah melalui mekanisme exitu linsitu, artinya hasil pengembangan satwa yang digembalakan konservasi telah melalui kajian perilaku, kesehatan, dan genetik layak untuk menetasliarkan akan direhabilitasi kemudian dikembalikan ke habitat alam,” jelasnya.
Selain peletakan batu pertama, acara ini juga menjadi penanda translokasi atau pelepasliaran satwa owa, lutung Jawa dan orang utan. “TSTJ sudah membuktikan hal tersebut dan mengembangbiakan lutung buteng, owa, dan juga orang utan Kalimantan dengan melakukan translokasi satwa ke pusat rehabilitasi Satwa Astina Jawa Timur dan pusat rehabilitasi orang utan Kalimantan di Nyaru Menteng sebelum dilepasliarkan ke alam,” terangnya.
Pihaknya menilai penggelolaan di lembaga konservasi harus memperhatikan prinsip-prinsip kesejahteraan satwa agar satwa apat hidup sehat, memiliki ketercukupan pakan dan dapat mengekspresikan perilakunya secara normal serta tumbuh dan berkembang biak secara baik di lingkungan yang aman dan nyaman.
“Aspek fisik, mental, dan perilaku alami perlu diperhatikan dan diemplementasikan oleh penggelola agar satwa tidak menderita, punah, atau mati,” jelas Agus.
Keselamatan satwa dan pengunjung menjadi bahan pertimbangan KLHK untuk membuat habitat asli bagi satwa yang ditranslokasi di lembaga konservasi. “Selain itu kandang tidur dan satwa sakit juga diperlukan untuk meminimalkan risiko kematian satwa di lembaga konservasi,” katanya.
Sejak tahun 2019, TSTJ menjadi pilot project KLHK melalui BKSD Jawa Tengah sebagai bagian revitalisasi kebun binatang. “Satu pilot projectnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui BKSD Jateng telah menyerahkan hibah bangunan kandang satwa reptil besar atau buaya, reptil kecil, hewan berkuku belah, kandang unta dan sumur dalam senilai 1,971 miliar,” bebernya.
Selain itu bantuan pakan satwa pada masa pelik juga diberikan pemerintah kepada TSTJ senilai Rp59 juta sebagai bentuk penyelamatan satwa saat pandemi Covid-19 melanda.
“Melalui rencana peremajaan perumda TSTJ Solo kami harapkan desain kandang satwa TSTJ dapat memperhatikan keselamatan dan kenyamanan satwa, serta memperhatikan keselamatan pengunjung, selain itu TSTJ yang baru dapat membuat daya tarik pengunjung, interkasi dan bersampingan,” tutupnya.
Saat ini revitalisasi masih sampai di fase 1 pengerukan danau yang sudah dilakukan sejak Juni lalu. Proyek revitalisasi yang masuk ke dalam 10 titik prioritas Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka ini ditargetkan rampung pada 23 Desember 2022. Hanya dikerjakan 6 bulan, proyek ini dibagi menjadi 3 fase yang mana di fase 1, pengunjung masih diperbolehkan untuk datang.
Sementara itu, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka menilai pemaparan DED TSTJ lebih matang. Saat ditanya mengenai kemungkinan kenaikan tiket usai peremajaan, pihaknya akan melakukan update. “Nanti saya update bulan depan ketika sudah PKS-nya matang tunggu dulu. Ini lebih detail, dihitung tidak melenceng dari konsep awal, Desember bisa dibuka lagi untuk umum, tahap dua insyaallah awal tahun kalau donaturnya sudah masuk bisa mulai lagi,” kata Gibran.







