Sewa Tenda Mahal, Pedagang Pilih Tempati Area Pejalan Kaki di Night Market Jalan Bhayangkara

oleh
Pedagang di Nighat Market Jalan Bhayangkara nekat berjualan di area pedestrian | MettaNews/Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Eti dan Arul adalah dua dari empat pedagang di Night Market Ngarsapura Sriwedari yang tak menempati stand atau tenda yang disediakan Dinas Koperasi UMKM Perindustrian (Dinkop) Solo. Alasannya biaya sewa yang mahal membuat keduanya memilih untuk menempati area pejalan kaki di ruas jalan Sriwedari.

Diketahui Eti dan Arul memang kerap berjualan disaat event pasar malam Minggu ini digelar. Namun tak berada di pedestrian Ngarsapura atau depan Pasar Triwindu di Jalan Gatot Subroto, keduanya menempati lokasi berdagang di depan Pasar Ngarsapura atau lebih tepatnya berada di dekat ATM BRI sisi timut.

Lantaran adanya revitalisasi pedestrian Ngarsapura, lokasi Night Market dipindah pada Sabtu, (15/7/2022) lalu. Sejak saat itulah keduanya pun ikut pindah ke Jalan Bhayangkara, Sriwedari sebagai lokasi Night Market sementara.

Eti penjual Hik  mengaku tak mampu menyewa tenda lantaran dirinya juga telah mengeluarkan uang untuk sewa gerobak.

“Sewa gerobak Rp 80 ribu, tenda Rp 350 ribu mahal dan itu satu kali pemakaian per Night Market, makanya satu tenda ada yang makai 1-5 orang, harus pakai tenda kalau di sini, kalau di tempat sebelumnya nggak pakai tenda,” kata Eti kepada MettaNEWS, Sabtu (23/7/2022) malam.

Harga sewa yang terlalu mahal membuatnya harus mencari gandengan. Namun karena ia berjualan dengan gerobak, ia tak bisa menempati satu tenda dengan rombongan lain. Dengan alasan kapasitas dan harga sewa ini ia memutuskan untuk berjualan dengan konsep HIK seperti biasanya, yakni tanpa tenda.

“Kalau jualan kaya gini kan gabisa pakai tenda, masa hik ada di tenda kan nggak bisa. Kalau bayar sendiri mahal, kalau barengan tempatnya kurang,” katanya.

Lantaran menempati area pejalan, pihaknya pun sempat ditegur Satpol PP. Dikatakan Eti, ia dan pedagang yang berada di kawasan ini diberi toleransi hanya pada malam itu saja dan di malam berikutnya harus berjualan di area dalam Night Market Ngarsapura.

“Tadi ada Satpol PP dikasih kelonggaran berjualan di sini nggak apa-apa tapi besokya harus sudah pindah, di sini kan nggak boleh,” ucap Eti.

Menempati area pejalan, pihaknya justru merasakan kenyamana berjualan di lokasi Night Market Ngarsapura yang sementara.

“Di sini sebenarnya penak (nyaman) tapi nggak boleh, kalau soal ramai ya ramai yang di sana,” bebernya.

Pihaknya yang telah mengetahui proyek revitalisasi Ngarsapura akan rampung selama 6 bulan akan kembali saat pembangunan sudah selesai.

“Kalau Night Market pindah Ngarsapura lagi ya ikut pindah aslinya kan di sana di timur ATM Pasar Ngarsapura,” tutupnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Arul, pedagang sate kere asal Kestelan, Banjarsari, tersebut juga menyebut sewa tenda Night Market Ngarsapura mahal.

“Belum pernah makai tenda ini juga tidak pakai tenda bayarnya mahal, jadi kalau hujan bingung terus neduh pakai payung yang saya bawa, kalau dulu gitu pas di depan Pasar Ngarsapura,” ucap Arul.

Tak ada tarikan saat menempati area tersebut, Arul mengaku untuk berjualan di Night Market Ngarsapura dirinya menggunakan jasa becak.

“Di sini nggak bayar baru ini saya di sini di hari pertama pindah ke Sriwedari saya nggak jualan hanya datang melihat,” jelasnya.

Di tempat sebelumnya ia hanya membayar biaya parkir. Pun saat hujan tiba-tiba turun, pihaknya akan mendapat potongan dari petugas parkir.

“Tarikan parkiran tidak pasti tergantung hujan enggak parkirane ngerteni (pengertian). Kalau di sini tidak bayar saya mbecak dan itu larang (mahal) saya asli Ketelan, di sini malah tambah transport nggak berani bawa motor dan beronjong,” jelas Arul.

Berbeda dengan Eti, penjualan sate kere miliknya tak cepat ludes seperti di gelaran Night Market Ngarsapura.

“Biasanya bawa 400, kalau di Ngarsapura malah kurang jumlahnya punjul (lebih banyak) dari sini, tadi di sini setelah Maghrib tapi ini belum banyak yang laku,” ucap Arul.