Satu Dekade Solo Mengajar, Berencana Perluas Jangkauan hingga Luar Solo

oleh
Solo Mengajar
Kegiatan belajar di Taman Cerdas Pajang oleh volunteer Solo Mengajar | dok Instagram @solomengajar

SOLO, MettaNEWS – Satu dekade sudah Solo Mengajar membangun harapan bagi anak-anak di Solo untuk mampu mendapatkan kualitas pendidikan yang layak. Telah berperan aktif dalam membangun semangat belajar, Solo Mengajar mampu berkontribusi nyata. Memiliki 400 siswa yang  telah bergabung, forum edukasi ini memiliki 100 volunter yang tersebar diberbagai wilayah di Solo maupun luar wilayah.

Sudah ada sejak tahun 2012 lalu, Solo Mengajar telah memilki prospek kerja yang bermanfaat bagi pendidikan anak-anak Solo. Ketua Harian Solo Mengajar, Gilrandi Aristya Dwi menyebut para relawan yang tergabung mengelar kegiatan mengajar melalui tempat tinggalnya masing-masing.

“Solo Mengajar ini berhasil melahirkan gerakannya, gerakan mendidik. Terlebih saat Covid temen-temen yang sebenarnya off tapi masih tetap memberikan pembelajaran. Terus mengumpulkan anak-anak untuk diajak belajar. Dengan kondisi yang seminimal mungkin tetap mengajar,” ucap Gilrandi saat ditemui MettaNEWS di Ndalem Kopi usai acara ulang tahun Solo Mengajar, Rabu (25/5/2022).

Dalam waktu 10 tahun, Solo Mengajar terus melakukan upaya untuk bisa memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak. Para volunteer yang ada tak harus dari bidang pendidikan guru, Solo Mengajar mengajak semua relawan yang mau berperan aktif meskipun dari berbagai latar belakang pendidikan lain.

“Kita dari berbagai macam pendidikan, nggak harus mahasiswa, ada yang ibu-ibu atau profesional  semua ikut daftar untuk bisa memberikan pengetahuan sesuai bidangnya masing-masing,” jelasnya.

Pada awalnya forum ini hanya fokus pada kegiatan pembelajaran, namun sering berkembangnya kebutuhan pendidikan bagi anak-anak, Dwi menyebut saat ini Solo Mengajar memberikan penguatan karakter kebangsaan.

“Di Solo Mengajar itu untuk sekarang kita mengurangi akademis. Life skill, soft skill dan juga bagaimana anak-anak itu berinteraksi dalam rumah. Jadi anak-anak juga mengenal bagaimana identitas sebagai anak bangsa yang nantinya berinteraksi dengan berbagai macam latar belakang,” ucap Dwi.

Siswa yang tergabung di Solo Mengajar didominasi oleh mereka yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK) dan juga Sekolah Dasar (SD).

“SMP ada beberapa kalau SMA sangat sedikit. Untuk anak-anak yang tidak mampu itu ada yang dari volunteer personal. Ada yang bergerak secara personal, jadi meksipun kita belum ada program beasiswa karena sudah kenal dekat jadi mereka membantu misal ada yang kesulitan membayar uang sekolah mereka iuran,” terangnya.

Solo Mengajar baginya adalah rumah bagi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan di luar kegiatan belajar mengajarnya di sekolah. Dwi menyebut Solo Mengajar berencana untuk melangkah hingga Solo dan sekitarnya. Kegiatan Solo Mengajar ini diselenggarakan di Taman Cerdas (TC) Solo, namun dalam beberapa waktu kedepan pihaknya berencana untuk memperluas lingkup pengajaran.

“Kalau selama ini kita hanya fokus untuk wilayah Solo di Taman Cerdas, tapi kita akan mencoba untuk meluaskan langkah untuk menjangkau. Dan kita sudah mau serahkan TC itu untuk temen-temen yang lain untuk bergerak lebih luas minimal Solo dan sekitarnya,” terangnya.

Usai mencapai usia yang ke 10 tahun, Solo Mengajar berencana untuk menjangkau rumah-rumah di luar wilayah Solo. Untuk siswa yang berminat bergabung untuk belajar bersama dengan Solo Mengajar, Dwi menyebut akan ada pendaftaran dari kelurahan.

“Yang sosialisasi dari TC dan kelurahan. Jadi nanti anak-anak getuk tular, yang pasti perangkat desa dan pengurus TC itu juga ikut sosialisasi. Dalam pendidikan, kita pengin di waktu satu dekade kedepan anak-anak dari wajib belajar jadi gemar belajar. Karena kalau gemar belajar itu nggak cuma rajin belajar tapi mereka benar-benar berani bermimpi dan berani mewujudkan mimpi mereka,” pungkasnya.