SOLO, MettaNEWS – Menggunungnya sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo Mojosongo membuat Solo membutuhkan tempat baru. Sudah overload sejak tahun 2000-an lalu, lahan untuk adanya TPA baru tidak dapat terwujud. Dibuatnya TPA regional sebagai cara penaggulangan masalah ini juga tak berjalan.
Alhasil Pemkot Solo menggunakan cara terbaru yakni pemanfaatan sampah untuk diubah menjadi sumber energi Pembangkit Tenaga Listrik Sampah (PLTSa). Adanya PLTSa ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan sampah di Solo. Sehingga TPA Putri Cempo yang sudah digunakan selama 35 tahun lamanya dapat digunakan untuk penampungan sampah warga Solo dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Bahkan dengan adanya PLTSa, Solo akan kekurangan sampah sehingga besar kemungkinan untuk melakukan impor sampah dari daerah lain. Hal ini telah disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Gatot Sutanto.
“Waktu itu digagas untuk TPA regional, tetapi untuk kemajuannya belum ada. Sekarang pakai teknologi yang relatif baru, dijadikan bahan bakar sebagai pembangkit tenaga listrik. Kemungkinan impor, soalnya pembangkit itu membutuhkan sampah 450-550 ton per-hari, sementara sampah yang masuk ke TPA itu 300 ton sehari,” terang Gatot saat ditemui di kantor DLH, Selasa 17/5/2022).
Dengan kebutuhan sampah 450-550 ton sehari tersebut menyebabkan adanya selisih yang cukup besar. Sehingga untuk sementara waktu, PLTSa akan memanfaatkan bukit sampah yang sudah menumpuk dari 1987 hingga saat ini.
Sampah sejak 35 tahun silam tersebut mampu membuat PLTSa mendapatkan energi selama 10 tahun lamanya.
“Waktu perhitungan, diperkirakan sekitar sepuluh tahun, tetapi kita harus spelling jangan sampai sampah sepuluh tahun habis kita baru cari. Kalau pertumbuhan sampah kelihatannya juga agak sedikit ini,” ucapnya.
Dalam jangka waktu ke depan, sampah di Solo tidak akan mencapai 500 ton sampah dalam sehari. Sehingga pihaknya akan mempersiapkan sampah-sampah dari wilayah sekitar Solo.
“Kita persiapkan sampah dari wilayah sekitar, seperti Colomadu, Palur, Solobaru, Kartasura, itu kalau dibuang di wilayahnya sendiri jauh, beberapa malah melewati Kota Solo. Atau malah Jogja misalnya, karena jalur KA sudah baik, distribusinya nggak menganggu kepadatan lalu lintas. Tetapi kita lihat sepuluh tahun ke depan,” jelasnya.
Gatot menyebut PLTSa yang direncanakan beroperasi di tahun 2023 mendatang ini akan membuat TPA Putri Cempo dalam waktu 10 tahun mendatang, tidak memiliki gunungan sampah.
“10 tahun lagi paling tidak gunungan sampah sudah habis, tahun depan sudah mulai operasional, paling tidak gunungan sampah sudah mulai dikurangi,” tutupnya.







