SOLO, MettaNEWS – Sampah di sepanjang ruas Jalan Slamet Riyadi, Solo nampak tercecer pada Car Free Day, Minggu (15/5). Gelaran CFD yang pertama kali diadakan ini dipenuhi ribuan pengunjung yang antusias untuk melakukan kegiatan. Sayangnya antusiasme pengunjung ini belum diimbangi dengan kesadaran masyarakat untuk membuang sampah di tempat sampah.
Sehingga dari pantauan MettaNEWS di lokasi, hal ini menghasilkan sampah yang berserakan di ruas jalan maupun trotoar.
Yang mana di sepanjang trotoar ruas Jalan Slamet Riyadi ini juga dipenuhi oleh pedagang kaki lima (PKL) yang menjajakan dagangannya.
Tidak hanya makanan atau pun minuman, PKL lain seperti pakaian, mainan, dan perlengkapan aksesoris juga memenuhi trotoar. Sedangkan, mayoritas sampah dihasilkan dari bungkus makanan dan minuman yang ditinggalkan pengunjung di sekitaran city walk serta di sekitar ruas Jalan Slamet Riyadi.
Tak ayal, hal ini membuat ruas jalan Slamet Riyadi nampak kotor. Menanggapi hal ini, Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka akan melakukan evaluasi.
“Nanti kita evaluasi lagi ya. Tong sampah, toliet portabel dan lain-lain nanti kita tambahi semuanya. Tenang aja,” tutup Gibran.
Selain itu, tidak banyaknya jumlah tong sampah di sepanjang trotoar ruas Jalan Slamet Riyadi ini juga menjadi penyebab banyaknya sampah dibeberapa titik CFD.
Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Solo, Gatot Sutanto telah memprediksi adanya luapan euforia masyarakat karena CFD ini sempat vakum selama dua tahun. Berpotensi membawa dampak lain seperti sampah yang ditinggalkan oleh pengunjung maupun pedagang kaki lima (PKL), Gatot ingatkan masyarakat untuk tertib membuang sampah.
“Nanti kita tetapkan CFD itu sebagai kawasan bebas sampah. Sehingga nanti harus betul-betul tertib sampah,” ucap Gatot saat ditemui di DLH Solo, Jumat (13/5/3022).
Selain itu pihaknya juga menghimbau masyarakat untuk melakukan pemilihan sampah. Terlebih bagi para pedagang yang menghasilkan sampah penjualan, pihaknya akan memakai tong sampah portabel dan trash bag.
“Kenapa kita pakai yang portabel karena kalau yang ditanam disana masih belum mendukung situasi kondisinya. Karena masyarakat itu kadang-kadang kalau ada tempat sampah yang posisinya tetap disana jadinya tempat pembuangan sampah sementara,” tambah Gatot.
Sementara itu. Rohmin salah satu pedagang Roti Boymin menyebut pihaknya mengumpulkan sampah yang dihasikan dari kegaitan berniaganya.
“Kalau sampah sudah ada dari distribusi. Kalau tahun sebelumnya itu ada petugasnya. Nanti kami ngumpulin yang di sekitar ditaruh di plastik dititipin aja ke petugas. Nanti bersih lagi,” ucap Rohmin kepada MettaNEWS, Minggu (15/5/2022).
Rohmin menyebut setiap pedagang membawa kantong plastik sampah untuk menanmpung sampah jualan.
“Pas rame kan ada plastik-plastik nanti kami ambil dikumpulin,” ujarnya.









