SOLO, MettaNEWS – Sejak resmi berganti nama menjadi X pada tanggal 22 Juli 2023, platform media sosial yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter masih tetap dipanggil dengan branding yang lama oleh mayoritas pengguna.
Pergantian nama yang dilakukan oleh Elon Musk, pemilik X, ternyata memicu perdebatan dan menuai respons beragam dari publik. Sebagian besar pengguna masih sulit beradaptasi, meskipun logo burung biru telah diganti dan identitas visual platform mengalami perubahan besar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa “Twitter” telah melekat kuat dalam memori kolektif pengguna setelah digunakan lebih dari satu dekade. Bahkan, istilah “ngetweet” telah menjadi bagian bahasa gaul di Indonesia, yaitu dari kata tweet yang kemudian dikasih imbuhan nge-.
Meskipun Elon Musk menggadang-gadang X sebagai aplikasi serba bisa yang melampaui sekadar platform microblogging, nyatanya citra Twitter sebagai media diskusi publik masih begitu dominan.
Berikut ini adalah tujuh alasan mengapa banyak orang masih menyebut X dengan nama Twitter:
- Kebiasaan dan Ingatan Bersama
Twitter telah hadir sejak 2006 dengan logo burung biru yang legendaris dan ikonik itu. Perubahan yang tiba-tiba nama menjadi “X” pada tahun 2023, bikin pengguna kaget yang tadinya sudah terbiasa secara visual dan emosional dengan brand lama.
- Jati Diri Daring
Selama lebih dari satu dekade, Twitter sudah membuat budaya internet sendiri. Contoh istilah seperti “ngetweet” sudah menjadi bagian dari bahasa gaul di internet, sehingga menggantinya dengan “nge-X” masih terasa aneh.
- Branding Lama Lebih Keinget Orang
Twitter bukan sekadar nama, akan tetapi juga merek global yang identik kuat dengan berita cepat, trending topic, dan interaksi yang real-time. Sementara “X” belum berhasil dapat tempat yang sama di benak pengguna.
- Sudah Terlanjur Sayang
Buat banyak pengguna, Twitter adalah tempat menemukan komunitas, dan update informasi dunia dengan cepat. Sehingga rasa nostalgia dan keterikatan emosional yang bikin susah move-on dari nama lama.
- Perubahan Merek yang Tidak Ramah Pengguna
Nama “X” terlalu umum dan tidak mencerminkan fungsi platform sebagai tempat berbagi pemikiran singkat. Sebaliknya, “Twitter” erat kaitannya dengan kata “tweet” atau kicauan, yang menggambarkan interaksi cepat antar pengguna.
- Pengguna Nolak Update
Sebagian pengguna menolak update sama rebranding ini. Menyebut X dengan sebutan Twitter adalah sebagai protes halus.
- Nama Lama Lebih Enak Didengar
Secara pengucapan, Twitter itu ringan, mudah diucapkan, dan akrab di telinga pengguna. Sedangkan X hanya terdiri dari satu huruf dan terdengar kaku. Kata Twitter kerasa lebih ramah dan asik digunakan.
Dengan tujuah alasan ini, wajar jika nama Twitter akan tetap hidup dalam percakapan pengguna, meski identitas resminya kini adalah X. Rebranding mungkin berhasil di ranah legal dan visual, tetapi di hati penggunanya, Twitter tetap pemenangnya. (Mohamad Adib Rifai/KMM Sastra Indonesia, FIB UNS)








