Warga Kampung Cinderejo Arak 7 Tumpeng dan Doa Bersama untuk Pernikahan Kaesang-Erina

oleh

SOLO, MettaNEWS – Warga Kampung Cinderejo Lor RT 1 RW 5, Gilingan Banjarsari Solo berduyun-duyun menggelar doa bersama untuk kelancaran pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Gudono, Rabu (7/12/2022).

Membawa 7 tumpeng dan hasil bumi, rombongan ini berjalan dari arah Jembatan Keris menuju Bendung Tirtonadi. Mereka tampak mengenakan pakaian lurik dengan aksesoris kepala. Ada yang dari adat Papua, adapula yang dibuat sederhana dari bambu.

Arak-arakan itu kemudian berkumpul untuk menggelar doa bersama. Terdengar salah satu pemimpin doa mengucapkan kalimat dalam bahasa Jawa yang kemudian disusul kalimat amin oleh semua yang hadir.

Suparto, tokoh masyarakat Kampung Cinderejo menuturkan kegiatan ini digelar sebagai rasa syukur atas pernikahan putra terakhir Presiden Jokowi.

“Ini rasa syukur kita sebagai warga RT Kampung Cinderejo Lor Solo yang waktu kecil Bapak Jokowi pernah hidup di sini, kami merasa bersyukur sekali putranya sudah mentas semua,” ujar Suparto.

“Ini mantu yang terakhir bagi masyarakat Jawa kan agak lebih besar daripada yang dulu dulu, kita sebagai warga tidak bisa banyak menbantu hanya membantu doa,” tambahnya.

Pihaknya mendoakan agar Kaesang dan Erina dapat menjadi keluarga yang awet. Selain mendoakan Kaesang dan Erina, rombongan tersebut juga mendoakan agar keluarga besar Presiden Jokowi selalu dirahmati sang pencipta.

““Semoga dengan doa kita bersama ini Allah mengijabahi temanten diberi rukun, sehingga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah, Pak Jokowi selalu diberi kesehatan bisa melanjutkan memimpin negara kita sampai selesai,” jelasnya.

Makanan yang dibawa dalam arak-arakan tersebut penuh akan filosofi Jawa. Misalnya saja sayur mayur yang merupakan

lambang kesuburan bagi masyarakat. Tumpeng dan hasil bumi tersebut dibagikan ke warga yang datang.

“Ada 7 tumpeng berdasar masyarakat Jawa dihubungkan dengan filosofi pitulungan, kemurahan Allah semoga hajat yang diinginkan Pak Jokowi dan keluarga bisa dapat dukungan dari Gusti Pangeran,” jelasnya.

Selain itu Suparto juga menjelaskan ada maksud tertentu dari penggunaan aksesoris kepala berupa bambu yang digunakan rombongan.

“Pakai bambu untuk hiasan karena di sini terkenal pasar bambu. Dan tumpeng tadi juga ibagikan meskipun sedikit harus rata, tumpeng itu lambang kemakmuran semua makanan yang ada kita makan sehari-hari,” ujarnya.