Wali Kota Respati Sebut Radio Amatir Jadi Jalur Komunikasi Alternatif, Tangkal Hoaks dan Perkuat Komunikasi Darurat

oleh
oleh

SOLO, MettaNEWS – Wali Kota Surakarta Respati Ardi menyoroti pentingnya menghidupkan kembali fungsi radio amatir (Orari) sebagai jalur komunikasi alternatif yang aman dan terpercaya.

Hal itu ia sampaikan usai dilantik sebagai anggota Orari Lokal Surakarta, Minggu (7/9/2025) di Pendapa Rumah Dinas Wali Kota, Loji Gandrung, dengan call sign Respati (YD2AEC).

Respati menyampaikan, peristiwa kerusuhan akibat demo di Kota Solo pada Jumat pekan lalu dipicu oleh penyalahgunaan media sosial sebagai transmisi komunikasi massa.

Respati mengungkapkan, kerusuhan yang melibatkan banyak pelajar SMP hingga mahasiswa itu berlangsung hingga dini hari bersama aparat TNI-Polri. Ia menyebut fenomena tersebut menyerupai adegan dalam serial Black Mirror, di mana interaksi digital dapat menggerakkan massa secara cepat dan masif.

“Kerusuhan kemarin itu transmitter komunikasinya menggunakan live di media sosial. Bahkan ada yang menominalkan rupiah di fitur live, misalnya membakar water barrier bisa dapat gift, merusak CCTV dapat apresiasi. Jadi layaknya seperti game. Inilah yang membuat anak-anak muda sangat reaktif,” kata Respati.

Menurutnya, pola komunikasi digital yang tanpa kendali itu sangat berbahaya. Ia mencontohkan adanya siaran langsung kerusuhan yang memicu penonton di lokasi untuk ikut melakukan tindakan serupa.

Lebih parah lagi, beredar broadcast pesan palsu yang mengatasnamakan Wali Kota, meminta warga mengunci pintu rumah dan mematikan lampu.

“Ini orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Pernyataan resmi pemerintah kota melalui broadcast WhatsApp pun akhirnya dipertanyakan kebenarannya. Maka saya pikir kita harus kembali pada komunikasi yang lebih terpercaya, salah satunya melalui radio,” tegasnya.

Respati mengusulkan agar Pemerintah Kota bekerja sama dengan Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) untuk merumuskan kebijakan baru. Ia berharap setiap kelurahan hingga tingkat RW terhubung dengan jaringan radio amatir.

Komunikasi itu tidak hanya difungsikan saat darurat, tetapi juga untuk mendukung program-program sosial seperti pencegahan stunting, kesehatan, hingga keamanan lingkungan.

“Radio amatir harus kita hidupkan kembali, bukan sekadar cadangan komunikasi saat bencana. Ini bisa menjadi media penyebaran informasi positif sekaligus benteng melawan hoaks. Orari Lokal Surakarta diharapkan terus meningkatkan kapasitas lewat pelatihan berkesinambungan agar kontribusinya semakin nyata,” ujar Respati.

Senada dengan Wali Kota, Ketua Orari Lokal Surakarta, Sumartono Hadinoto, menegaskan kesiapan organisasinya untuk mendukung pemerintah kota dalam memperkuat jalur komunikasi darurat maupun sosial.

“Orari memang berawal dari hobi komunikasi, tetapi anggota selalu siap siaga ketika dibutuhkan, baik untuk kebencanaan, keadaan gawat darurat, maupun kegiatan sosial. Apa yang disampaikan Mas Wali tadi akan kami sambut baik. Kami siap bekerja sama dengan Pemkot untuk memonitor keadaan kota Solo,” jelas Sumartono.

Ia menambahkan, pada saat kerusuhan kemarin anggota Orari juga saling bertukar informasi melalui frekuensi. Jaringan Orari yang luas, dari tingkat lokal hingga nasional, kerap memberikan masukan penting bagi aparat keamanan dan pemerintah.

“Kalau banjir atau bencana lain, biasanya anggota segera menyampaikan informasi di frekuensi. Jadi semua bisa memonitor secara cepat. Dengan kemajuan teknologi sekarang, kami berharap Orari tetap bertahan dan berkembang, tidak hanya berfokus pada komunikasi, tetapi juga pengabdian sosial,” tuturnya.

Sumartono menegaskan bahwa keberadaan Orari di era digital justru semakin relevan.

“Selain menjaga tradisi komunikasi radio, organisasi ini berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah kota dalam menyebarkan informasi positif, melawan hoaks, dan mendukung penanggulangan bencana,” pungkasnya.