SOLO, MettaNEWS – Dinas Kesehatan Kota Solo membuka pelayanan vaksin dosis keempat atau booster kedua jenis Pfizer untuk masyarakat umum. Salah satunya lewat Puskesmas Pembantu Makam Cilik yang beralamatkan di Jalan Jamsaren Nomor 41 A, Serengan, Kota Solo.
Koordinator Imunisasi dan Vaksinasi Puskesmas Jayengan yang juga Bidan Puskesmas Pembantu Makam Cilik, Hendra Kusumawati menuturkan pelayanan vaksin keempat berjalan setiap Selasa dan Jumat pada pukul 08.00-10.00 WIB.
“Vaksin keempat ada lagi bulan ini, satu bulan kemarin sempat kosong bulan April pas puasa. Kalau untuk sekarang ini karena peminatnya sudah sedikit kemudian stok vaksinnya terbatas maka Puskesmas Jayengan melayani hari Selasa dan Jumaat saja. Untuk efektivitas dan efisiensinya saja,” ujar Hendra kepada MettaNEWS, Selasa (23/5/2023).
Program vaksinasi keempat ini merupakan lanjutan dari dosis 1, 2 dan 3. Vaksin keempat hadir pada pertengahan 2022 dengan jumlah rerata kuota per harinya 100 orang.
“Kuota sekarang sekitar 50 sampai 100 terbatas peminatnya sedikit. Mungkin karena sudah banyak yang vaksin dosis sebelumnya. Sekali pelayanan sekitar 20 kadang hanya 15 kalau dulu bisa sampai 100,” terangnya.
Pemberian booster kedua secara bertahap, pada tahap awal vaksin ini tertuju kepada nakes, baru lansia dan terakhir masyarakat umum.
“Peminatnya pas awal tahun 2022 itu banyak 80 100, 2023 sudah sangat berkurang. Padahal kita membuka untuk umum seluruh KTP Indonesia bisa. Jadi tidak terbatas wilayah atau kota tertentu, syaratnya hanya KTP,” tuturnya.
Kini booster kedua dapat tertuju kepada masyarakat umum dengan minimal usia 18 tahun tanpa Batasan usia. Sedangkan beberapa golongan seperti ibu hamil, pengidap penyakit dengan perawatan khusus seperti auto imun tidak bisa menerima booster kedua jenis ini.
Penyebab Vaksin Keempat Tak Diminati
Peminta vaksin keempat tak sebanyak tahun 2022, pasalnya kebanyakan warga yang datang rata-rata merupakan lanjut usia. Sedangkan peminat dari kalangan muda cenderung sangat rendah.
“Peminatnya lansia di atas 40 tahun yang muda-muda ini jarang karena mikir Covid sudah nggak ada. Pandemic sudah hilang jadi mungkin nggak vaksin nggak apa-apa. Padahal sebenarnya yang namanya kebijakan pemerintah itu ada booster keempat karena istilahnya kekebalan kita sudah menurun harus dibooster lagi,” bebernya.
Sejauh ini pihaknya belum menerima laporan masyarakat yang merasakan adanya gejala Kipi (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). Untuk itu masyarakat pun tak perlu risau.
“Kipi malah jarang menerima laporan, mungkin hanya meriang gembreges sedikit. Habis vaksin nggak meriang. Jika terjadi badan yang meriang atau lemas kita suruh minum paracetamol,” tandasnya.
Terpisah salah satu warga Solo, Novita (27) mengaku merasakan Kipi usai menerima booster kedua beberapa hari lalu.
“Yang Pfizer ini hanya agak lumayan berat juga karena mungkin badannya lagi drop. Jadi kemarin itu pakai demam ada seperti pusing. Demamnya kalau malam sampai periksa ke dokter ternyata ada radang tenggorokan juga jadi karena mungkin imunnya lagi drop ya agak kena kemana-mana,” beber dia.
Kendati merasakan Kipi, Novita menyadari akan pentingnya booster kedua.
“Tapi so far vaksin penting banget meskipun dengan kipi-kipi yang dialami. Tapi kita juga harus menyadari, mengingat pandemi yang kemarin itu mendingan untuk vaksin daripada harus ada pandemic lagi seperti itu,” pungkasnya.








