Transformasi TLKM 30 Berbuah Manis, Pendapatan Telkom Tembus Rp75,9 Triliun pada Semester I 2026

oleh
oleh
PT Telkom Indonesia

JAKARTA, MettaNEWS – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menutup semester pertama 2026 dengan kinerja keuangan yang solid dan positif. Berkat akselerasi transformasi melalui strategi TLKM 30, perusahaan berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan, EBITDA, hingga laba bersih normalisasi di tengah terus meningkatnya kebutuhan layanan digital masyarakat.

Berdasarkan laporan keuangan semester I 2026, Telkom mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp75,9 triliun, tumbuh 3,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/YoY).

Sejalan dengan peningkatan pendapatan, EBITDA Perseroan juga naik 3,8 persen YoY menjadi Rp37,5 triliun dengan EBITDA margin sebesar 49,4 persen.

Sementara itu, laba bersih tercatat Rp10,6 triliun, meningkat 1,4 persen YoY, sedangkan laba bersih normalisasi mencapai Rp11,3 triliun atau tumbuh 6,2 persen YoY. Capaian tersebut mencerminkan ketahanan operasional perusahaan yang ditopang oleh pemulihan bisnis seluler serta efektivitas strategi transformasi yang dijalankan.

Selain mencatat pertumbuhan laba, Telkom juga membukukan arus kas operasional sebesar Rp34,9 triliun, meningkat 7 persen dibandingkan semester pertama tahun lalu. Peningkatan ini didukung program efisiensi yang berkelanjutan serta disiplin dalam pengelolaan biaya operasional.

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengatakan pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa transformasi digital melalui strategi TLKM 30 mulai memberikan hasil nyata bagi perusahaan.

“Komitmen dan dedikasi kami dalam mengakselerasi transformasi digital melalui strategi TLKM 30 tercermin dari pertumbuhan yang berhasil kami capai pada semester pertama tahun ini. Pencapaian tersebut semakin memperkuat optimisme kami untuk terus mempercepat transformasi sekaligus memperkuat peran Telkom sebagai pemimpin ekosistem digital Indonesia,” beber Dian.

Bisnis Seluler dan Broadband Jadi Penopang

Pada segmen Business to Consumer (B2C), Telkomsel membukukan pendapatan Rp55,6 triliun, tumbuh 3,3 persen YoY. Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan bisnis digital dan layanan data yang naik 11 persen.

Kinerja positif juga tercermin dari meningkatnya Average Revenue Per User (ARPU) layanan seluler menjadi Rp45.600, atau tumbuh 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Lonjakan konsumsi data selama libur sekolah serta penyelenggaraan Piala Dunia turut mendorong pertumbuhan trafik internet pelanggan.

Di sisi layanan fixed broadband, Telkomsel terus melakukan peningkatan kualitas pelanggan melalui strategi kalibrasi basis pelanggan. Meskipun jumlah pelanggan IndiHome menjadi 9,5 juta, nilai ARPU justru meningkat menjadi Rp211 ribu secara kuartalan dan Rp207 ribu secara semesteran.

Selain itu, rasio konvergensi layanan terus naik hingga 65 persen, menunjukkan semakin banyak pelanggan yang menggunakan layanan digital Telkom secara terintegrasi.

Infrastruktur Digital Tumbuh Pesat

Pertumbuhan signifikan juga terjadi pada segmen Business to Business (B2B) Infrastructure yang mencatat pendapatan Rp33,1 triliun, naik 19 persen YoY.

Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan layanan data, internet, dan teknologi informasi (IT Service), seiring pesatnya transformasi digital di berbagai sektor.

Anak usaha Telkom, Mitratel, turut mencatat pertumbuhan pendapatan menjadi Rp4,7 triliun atau naik 2,1 persen. Jumlah penyewa menara (tenant) meningkat menjadi 63.866, sehingga rasio penyewaan menara mencapai 1,57 kali.

Sementara itu, bisnis data center melalui NeutraDC terus diperkuat untuk menjawab meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital, termasuk permintaan kapasitas baru kabel bawah laut internasional yang didorong perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan kebutuhan perusahaan teknologi global.

Transformasi Berlanjut

Selama semester pertama 2026, Telkom juga melanjutkan transformasi internal melalui penyederhanaan struktur bisnis. Sebanyak 10 entitas telah ditata ulang melalui skema divestasi, merger, maupun likuidasi untuk memperkuat fokus pada bisnis inti.

Perseroan juga merealisasikan belanja modal (capital expenditure/CAPEX) sebesar Rp10,8 triliun, dengan lebih dari 96 persen dialokasikan untuk pengembangan bisnis prioritas di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International Business.

Menurut Dian Siswarini, investasi pada infrastruktur digital menjadi langkah strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan akan sangat ditentukan oleh kekuatan infrastruktur digital yang kita bangun hari ini. Oleh karena itu, Telkom akan terus mengakselerasi transformasi dan memperkuat investasi pada kapabilitas digital guna menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan, sekaligus menjadi katalis pertumbuhan lintas sektor dan memperkuat ketahanan ekonomi digital nasional,” pungkasnya.