SOLO, MettaNEWS – Tinggi kontruksi jembatan Rel Layang Joglo akan naik sekitar 7 meter dari tanah yang mengharuskan kereta berjalan menanjak untuk melalui rel tersebut.
Kereta api mengunakan roda dan rel dari besi yang tidak didesain dapat berjalan naik atau menanjak. Lantas bagaimana dengan naiknya rel layang Joglo ini? Apakah kereta mampu berjalan menanjak?.
Menurut Site Manager PT WIKA-BKY KSO, Dendy Purbowo mengungkapkan pihaknya telah merencanakan dengan matang mengenai tinggi Rel layang Joglo tersebut. Pihaknya akan membuat jembatan dengan rute terpanjang, kurang lebih 2 kilometer dari ujung ke ujung.
“Kita mulai naikan secara perlahan dari jarak kurang lebih 1 kilometer, itu yang membuat kereta tidak merasa menanjak. Dan ketika turun kita juga buat yang smooth,” ungkap Dendy saat MettaNEWS konfirmasi Selasa (21/2/2023).
Lebih lanjut, jalur rel di wilayah Kadipiro jurusan Kaliyoso dari peta lebih tinggi daripada Stasiun Balapan. Sehingga trek turun tidak akan sepanjang trek naik.
“Karena kondisi dari Stasiun Balapan lebih rendah jadi kita memerlukan trek yang lumayan panjang untuk naiknya,” ungkapnya.
PT. WIKA-BKY KSO yang bertanggung jawab untuk Jembatan Ikonik Joglo ini, telah memastikan trek yang mereka kerjakan dapat kereta lalui dengan aman.
“Penempatan rel nantinya akan berada di atas plat lantai jembatan, kemudian batu-batu seperti pada rel biasanya,” imbuhnya.
Sementara itu proses pengerjaan Rel Palang Joglo ini hampir menyelesaikan pemasangan pilar. Selanjutnya akan memasang kontruksi Jembatan atas.
“Pilar kami targetkan bulan depan (Maret 2023) selesai. Kami bulan ini juga mulai memasang jembatan pada pilar yang telah selesai,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dendy mengatakan operasional kereta api masih terus berlangsung. Pada tahap pertama pihakya telah memindahkan rel menuju sebelah barat sehingga ketika pengerjaan operasional kereta masih terus berjalan.
“Kami targetkan bulan Agustus 2023 ini rampung,” tukas Dandy








