SOLO, MettaNEWS — Putri Pertama mendiang PB XIII GKR Timoer Rumbaikusuma Dewayani angkat bicara menanggapi kisruh internal keluarga besar Keraton Kasunanan Surakarta jelang rencana jumenengan (penobatan) yang dijadwalkan Sabtu (15/11/2025) mendatang.
Timoer mengaku prihatin melihat kondisi keluarga keraton yang kembali terbelah seperti peristiwa suksesi sebelumnya pada masa alm ayahnya, Pakubuwono XIII.
“Saya kasihan saja dengan adik saya. Saya kasihan Keraton dipecah belah seperti ini. Seperti mengulang suksesi PB XIII yang lalu,” ujar GKR Timoer kepada wartawan, Kamis (13/11).
Meski begitu, ia memastikan bahwa rencana jumenengan akan tetap berjalan sesuai jadwal.
“Masih berjalan. Persiapannya sudah 70 persen. Upacaranya nanti tetap seperti adat yang harus dijalankan,” terangnya.
Namun GKR Timoer menyayangkan sikap Gusti Mangkubumi yang dianggap berkhianat terhadap kesepakatan keluarga.
“Saya cuma sedih saja Gusti Mangkubumi bisa berkhianat dengan kami, putra-putri, kakak-kakak dan adik-adiknya. Itu yang saya sesalkan,” katanya.
Menurutnya, sebelumnya keluarga besar sudah melakukan pembicaraan bersama pihak pemerintah daerah, termasuk Gubernur Jawa Tengah dan Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka.
“Kami sudah sepakat bahwa Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom adalah putra mahkota. Kesepakatan itu terjadi ketika Wapres Gibran datang sebelum pemakaman,” ungkapnya.
Terkait surat edaran dari Kementerian Kebudayaan yang menjadi dasar pertemuan keluarga keraton, GKR Timoer menegaskan pihaknya tidak menerima surat tersebut.
“Kami tidak menerima, dan karena itu saya tidak datang. Kami tidak merasa diundang oleh Kementerian,” tegasnya.
GKR Timoer menilai pertemuan tersebut cacat hukum dan tidak bisa mewakili keluarga besar pewaris PB XIII.
“Dari pihak PB XII yang hadir hanya enam, dua di antaranya walkout dari 23 yang diundang. Silakan nilai sendiri, apakah ini benar dari sisi hukum maupun adat,” tandasnya.








