SOLO, MettaNEWS – Sebagian pedagang kaki lima (PKL) Shelter Manahan, Solo mulai berkemas, Jumat (12/5). Sebanyak 132 pedagang yang tergabung dalam Guyub Rukun Shelter Manahan akan direlokasi ke shelter yang terletak di Jalan KS Tubun barat Manahan.
Pembangunan yang direncanakan akan selesai dalam waktu satu tahun ini membuat para pedagang pun rela menunggu. Meskipun tidak diberikannya tempat sementara untuk berjualan, para pedagang memilih untuk mengontrak sementara waktu.
“Kemarin barang-barang gerobak, etalase yang sekiranya dibawa pulang, dibawa pulang dulu. Itu sementara ada yang kontrak, ada yang cari tempat, kebanyakan kontrak, untuk penantian lah intinya, kalau yang itu (foodcourt) Jl KS Tubun dibangun sudah jadi, kita kembali lagi,” ucap Sudarto Ketua Guyub Rukun Shelter PKL Manahan, Solo, Jumat (13/5/2022).
Sepakat untuk mencari tempat berjualan sendiri, Darto sapaan akrabnya menyebut para pedagang akan sabar menanti hingga tempat yang baru selesai dibanhun. Akan menunggu undangan pertemuan selanjutnya sebelum atau pun sesudah pembongkaran, pihaknya akan menunggu mengenai pembagian tempat.
“Kemarin terakhir bahas tentang desain itu sudah diutarakan semua, itu nanti ada undangan tentang hal apa teknisnya di lapangan penempatan atau sebagainya paguyuban sendiri nunggu,” ucap Darto.
Sebelumnya para PKL meminta ke Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka untuk mengubah letak shelter dari timur ke barat Manahan.
“Kemarin memang desain sebelumnya itu menghadap ke timur, kita memohon pada Dinas tembusannya ke Pak Wali, dan disetujui desainnya diubah ke barat,” tambahnya.
Belum ada informasi mengenai sistem berjualan di tempat yang baru, Darto menyebut masih menunggu untuk pertemuan selanjutnya.
“Nah ini yang belum dikasih tau soal sewa, belum diinformasikan, untuk ke depan tempat baru dikenakan biaya apa saja kita belum tahu, mungkin nanti kebersihan apa-apa-apa, kita belum tahu,” ucap Darto.
Setelah proses pembangunan shelter yang baru, para pedangan yang sudah didata sebelumnya akan menempati lokasi yang baru. Akan menjadi pemakai tetap, Darto menyebut para pedagang yang aktif dapat menempati shelter barat.
“Semuanya tertampung di situ, jadi bener-bener untuk pedagang yang aktif berdagang. Yang tertib bayar retribusi, tidak mangkir jualan, ya itu tetap dapat tempat, sudah terdata semua. Nggak ada pendataan ulang, kita sudah didata shelter nomor berapa sudah semua,” terangnya.
Ia pun berharap lokasi jaulan yang baru kelas lebih nyaman dan merata dalam mendapatkan pelanggan.
“Harapannya otomatis lebih nyaman, penjualan yang kita targetkan memenuhi, pemerataan juga, mungkin diadakan event-event tertentu, pengenalan produk untuk pemerataan. Jadi semuanya kecipratan, diakomodir semua,” imbuhnya.
Desain shelter PKL yang direncanakan lebih nyaman dan layak untuk berjualan ini menurur Darto merupakan tempat untuk kalangan menengah ke atas.
“Kalau menurut saya desain baru di atas bangunan PKL, jadi menurut saya itu seperti tempat menengah ke atas, itu bagus sekali itu,” ucapnya.
Biaya sewa yang relatif mahal membuat Darto yang juga berjualan kacang hijau di shelter Manahan akan membuka lapak dagangannya di kediamannya, Sumber, Banjarsari, Solo.
“Kalau saya rencana sementara nanti di rumah saja, sekaligus pengenalan untuk tetangga, belum ada kepikiran untuk ngontrak, kalau ngontrak kan biaya sendiri juga biaya-nya mahal,” terangnya.
Darto yang tidak mengetahui secara pasti kapan waktu selesai relokasi menyebut beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan di Solo bisa berpotensi membuat proses pembangunan shelter berlarut-larut.
“Itu selesainya kurang tahu, mungkin ada acara Asean Para Ganes, itu otomatis akan menganggu (pembangunan), terus ada Piala Dunia U-21, mungkin kira-kira setahun,” tutupnya.








