SOLO, MettaNEWS – Solo memiliki makanan tradisional yang memiliki cita rasa beragam. Salah satunya tahok, makanan asal Tiongkok Cina yang lebih dikenal sebagai kembang tahu ini memiliki cita rasa manis dengan tekstur lembut. Cita rasa ini dihasilkan dari sari pati kedelai yang telah diproses dengan menggunakan alat sederhana batu. Untuk bisa menemukan makanan unik satu ini, Anda dapat berkunjung ke Pasar Gede, Jalan Suryopranoto No 21, Kepatihan Wetan, Kecamatan Jebres, Solo. Di sana terdapat salah satu penjual Tahok yang terkenal di Solo yakni Pak Citro.
Berjualan sejak tahun 1968, dahulunya Pak Citro berjualan Tahok dengan cara dipikul. Saat masih muda, Pak Citro menjajakan dagangannya dengan cara berkeliling di dibeberapa tempat seperti Pasar Gede, Pasar Legi sampai Stasiun Balapan Solo. Tertarik untuk berjualan Tahok, Pak Citro yang berasal dari Sedayu, Bantul, Yogyakarta ini mulai ikut dengan salah satu juragan di Solo pada masa penjajahan Jepang.
“Dulu kan juragannya pas zaman Jepang itu sudah bikin. Tapi karena nggak ada bumbunya berhenti. Terus ada bumbu lagi tahun 1968, bikin bumbu terus nanya. Siapa yang mau jual Thok, saya ikut. Temen saya dulu ada 17, sama saya 18. Habis tinggal saya saja sampai sekarang. Dulu harganya Rp 500 per mangkuk wedang ronde, sekarang Rp 9.000 per mangkuk. Saya jualannya dari setengah enam, dari rumah saya timur Pasar Gede ini kan deket. Kalau dulu muter se Solo (jualannya). Kalau mulai jualan gerobak ini tahun 2000. Sampai sekarang masih banyak pembeli. ini kan termasuk gizi,” ucap Citro saat ditemui di Taman Segitiga Pasar Gede Solo, Jumat (20/5/2022).
Usia yang sudah memasuki angka 87 tahun membuatnya terkadang tak sanggup untuk berjualan lagi. Sehingga jika Anda mengunjungi tempat jualan Pak Citro, Anda akan bertemu dengan anaknya saja. Dalam sehari ia mampu menjual 100 mangkuk, itu artinya Pak Citro dapat mengantongi uang sebanyak Rp 900.000. Angka yang cukup besar untuk penjualan makanan tradisional dengan waktu yang tak sampai 4 jam.

“Kalau ada yang neruske (meneruskan) kan ya turun temurun. Ini yang megang anak saya yang terakhir, saya sudah nggak kuat,” ucap Pak Citro sambil mengatakan habis pada setiap orang yang datang. Tahok Pak Citro ini buka dari jam 05.30 WIB sampai 09.00 WIB. Namun tak jarang ada pembeli yang kehabisan sebelum jam 09.00 WIB. Maklum saja jika Tahok ini memiliki banyak penggemar. Pasalnya tekstur lembut yang nampak seperti puding berwarna putih ini sangat lembut dengan cita rasa kuah pedas manis dari jahe dan paduan pandan serta seri memberikan efek hangat di perut. Sangat enak jika dicicipi saat masih panas terlebih di suasana pagi yang dingin. Selain di Pasar Gede, Tahok ini juga dapat ditemui di Kreteg Gantung, Jl. Kapten Mulyadi Nomor 83, Sudiroprajan, Jebres, Solo.
“Untuk gulanya ini pakai jahe pandan serai, direbus dulu. Setelah pedas gulanya baru masuk terus diaduk. Pas sudah mendidih , jahenya diambilin. Setelah diambilin, dididihkan lagi. Setelah itu sudah matang. Ini saya masak gulanya sore. Kalau Tahonya jam satu malem,” jelas Pak Citro.
Setiap harinya, Pak Citro hanya menjual satu kaleng Tahok yang dapat menjadi 100 mangkuk saja. Membutuhkan tenaga yang ekstra dan pembuatan yang tak sebentar membuatnya hanya menjual Tahok sebanyak satu kaleng setiap harinya. Dalam sehari, ia mampu menghabiskan 5 kilogram kedelai untuk diambil sari patinya. Agar masih enak disantap di pagi harti, Tahok ini dibuat saat dini hari yakni pukul 01.00 WIB.
“Bikinnya susah, ini bikinnya saja bayar. Saya sudah nggak kuat giling sendiri. Kedelai itu dicuci bersih, terus digiling pakai batu besar diputar. Batunya diangkat dua orang saja keberatan, atas bawah (batunya) di tengah ada lobangnya diputar. Kedelainya masuki lubang, terus kasih air. Airnya itu nanti dimasukkin ke ember pas sudah keluar. Nanti busanya dari kedelai dihilangkan. Dari ember besar yang dikasih palang kayu itu di dalamnya ada kain mori untuk menyaring patinya sampai apuh (habis kandungan airnya). Apuh kalau ampasnya masih kasar digiling lagi, kedelainya 5 kilogram. Kalau ongkosnya Rp 80.000,” terang Cipto.
Sembari mengemasi mangkuknya, Pak Citro juga menjelaskan alasannya tetap menggunakan alat tradisional batu.
“Kalau pakai mesin itu bau minyak. Ini kan makanan orang makan nggak mau. Tapi kalau tahu itu kan direndam air jadio baunya hilang, karena digoreng. Tapi ini kan sari patinya yang dimakan, baunya ya bau minyak nggak mau. Nggak bisa jalan, ucapnya.
Harga kedelai yang sempat naik membuatnya menaikkan harga Tahok. Untuk Anda yang penasaran dengan cita rasa Tahok dapat datang di hari Sabtu atau Minggu pagi agar tak kehabisan menu sarapan yang satu ini. Pasalnya Pak Citro menjual 2 kaleng lebih banyak dari porsi sebelumnya di hari ini.
“Sebelumnya itu harganya Rp 8 ribu per mangkuk, terus sekarang itu saya naikin seribu. Kalau jual 8 ribu nggak ada untungnya, capek tok (aja). Naikknya itu pas hari puasa Rp 9 ribu, terus pas hyabis lebaran itu naik lagi Rp 10 ribu. Habis Syawalan turun lagi Rp 9 ribu. Sekarang sudah tetap (harganya),” tutupnya.









