Sumartono: Organisasi Akan Mati Jika Tak Bermanfaat untuk Anggota dan Lingkungannya

oleh
oleh
Sumartono Hadinoto berbicara di depan forum Persatuan Masyarakat Batak Soloraya | MettaNews/Ari Kristyono

KARANGANYAR, MettaNEWS – Sebuah organisasi, akan menjadi nama kosong, kering dan kemungkinan akan mati, jika organisasi itu tak bermanfaat untuk anggotanya dan lingkungan sekitarnya. Diperlukan para pengurus dengan niat dan kerelaan yang kuat untuk memajukan sebuah organisasi.

“Seperti saya di PMI, saya berusaha keras agar organisasi PMI harus bisa menyediakan darah yang bersih, sehat dan jumlahnya cukup untuk masyarakat, karena itu fungsi dan mandat PMI. Jika tidak bisa, lebih baik saya lepas, istirahat saja di rumah,” tutur Sumartono Hadinoto, Sabtu (12/3/2022) malam di Wisma El Betel, Karanganyar.

Sumartono memaparkan sejumlah saran-saran tentang berorganisasi di depan sejumlah anggota dan pengurus Persatuan Masyarakat Batak Soloraya (PMBS). Organisasi yang berdiri tahun 2018 ini, tengah menggelar musyawarah untuk memilih pengurus periode 2022-2026.

Dalam presentasi sepanjang 30 menit, Sumartono banyak memaparkan beberapa kunci sukses dua organisasi di Solo di mana dia aktif sebagai pengurus inti, yakni Perkumpulan Masyarakat Surakata (PMS) yang sudah berumur 90 tahun dengan 3.000 anggota. Juga PMI Kota Solo, satu-satunya PMI di Indonesia yang bisa berdiri independen tanpa bantuan anggaran pemerintah, namun memiliki sejumlah layanan berstandar ISO 9001.

“Sebuah ilustrasi menyebut, jika ingin mengubah dunia, ubahlah manusianya. Di organisasi, siapa pun yang jadi pengurus harus punya wawasan, visi misi untuk memajukan organisasi. Pada saat yang sama, pengurus harus menyingkirkan kepentingan pribadi, kelompok. Menyediakan waktu dan tenaga untuk kemajuan organisasi,” tandasnya.

Secara khusus, Sumartono juga mengingatkan agar keberadaan sebuah organisasi, bisa memberikan manfaat untuk anggota. Manfaat dan dukungan yang dirasakan oleh setiap anggota, bisa menjadi perekat organisasi dan akan membuat organisasi eksis.

Langkah lain adalah membangun jejaring (networking) yang seluas-luasnya. Sumartono mengisahkan bagaimana dia setiap saat berkenalan dengan orang-orang baru yang sangat beragam latar belakangnya. Pertemanan tidak perlu berpikir apakah nanti akan menguntungkan atau tidak.

Sumartono lalu menyebut contoh, ada 28.000 nomor telepon di ponselnya. Selama 24 jam telepon ini aktif, seringkali orang menghubungi untuk minta bantuan. Dengan jejaring yang luas, dia bisa memperoleh cara untuk membantu, yang kadang datang dengan cara yang tidak terbayangkan sebelumnya.

“Yang penting sekali, tentu kerelaan dalam bekerja, bukanlah sebuah langkah rugi dalam kehidupan sosial. Saya sudah membuktikan, Tuhan memberikan berkat yang lebih dari yang sudah saya berikan untuk sesama. Ibarat kita menanam padi, nantinya kita akan menikmati bukan cuma padi tapi nasi goreng dengan ayam goreng dan telur ceplok,” pungkasnya.