SOLO, Metta NEWS – Resmi dikukuhkan sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegara X pada Sabtu, (12/03), KGPAA Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo memberikan sabda dalem untuk pertama kalinya di hadapan tamu jumenengan Pura Mangkunegaran.
Penyampaian sabda dalem atau pidato tersebut dilakukan usai pembacaan piagam pengukuhan dan mengenakan pusaka dalem Kanjeng Wangkingan, KGPAA Mangkunegara X.
Terdapat dua bahasa yang digunakan dalam sabda dalem pertamanya, yakni Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia. Saat prosesi upacara jumenengan berlangsung semua tamu undangan diminta untuk berdiri.
Setelah membacakan sabda dalem menggunakan Bahasa Jawa, KGPAA Mangkunegara X menyampaikan pidato dalam Bahasa Indonesia. Berikut isi sabda dalem KGPAA Mangkunegara X yang berbahasa Indonesia :
Pura Mangkunegaran telah melalui perjalanan sejarah yang penuh pasang surut. Dan dengan berpegang teguh pada prinsip hanebu sauyun, bersatu teguh dalam kebhinekaan. Bak serumpun tebu yang berpegang erat tetap mampu bertahan hingga saat ini sebagai salah satu pusat budaya, sastra, dan falsafah kebangsaan.
Pada hakekatnya ikatan antara manusia dengan budaya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan tersebut terbentuk satu sama lain dari kegiatan sehari-hari, dari cara kita menjalankan hidup, dari cara makan, berpakaian, berbicara, berkesenian, hingga berbentuk hukum yang kita hasilkan. Kebudayaan adalah jati diri kita dari diri kita semua.
Saya menyadari bahwa Pura Mangkunegaran memiliki warisan budaya adi luhur yang tidak serta merta dapat diturunkan secara biologis. Namun berusaha nglampahaken, sehingga dapat diwariskan di generasi yang akan datang. Sebagaimana Tri Dharma handarbeni bersama-sama kita berpegang teguh, amanah untuk menggali, melestarikan dan mengembangkan warisan budaya tersebut beserta nilai-nilainya. Tidak hanya bagi Pura Mangkunegaran tetapi juga bagi masyarakat luas.
Amanah tersebut tentu tidak dapat dilaksanakan seorang diri tetapi memerlukan keterlibatan sosial kemasyarakatan. Untuk itulah selain sebagai salah satu pusat terakhir dan perkembangan suatu budaya, Pura Mangkunegaran harus mampu menjadi suri tauladan, jembatan, kolaborator bagi seluruh nusantara, baik itu budayawan, akademisi, pemerintah maupun lembaga sosial, budaya melestarikan sejarah dan ekonomi.
Menghadapi era yang dinamis dan penuh tantangan, Pura Mangkunegaran tidak boleh terlena dalam euforia budaya masa lalu. Warisan sejarah Mangkunegaran bukan hanya suatu hal yang harus dirayakan melainkan harus diilhami pasang dan surutnya. Agar Mangkunegaran dapat terus menjadi pelestari budaya dan sejarah yang kokoh, agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Untuk itu, dalam kesempatan ini saya mengajak seluruh insan Mangkunegaran dan masyarakat indonesia, khususnya Surakarta. Untuk bersama-sama mengamalkan nilai-nilai luhur yang diajarkan kepada kita, melestarikan, dan terus mengembangkan kebudayaan Mangkunegaran sebagai bagian yang tak bisa dipisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia dan tentunya untuk bekerja memberikan kontribusi yang nyata dan bermakna bagi nusa dan bangsa.
Setelah membacakan sabda dalem, KGPAA Mangkunegara X meninggalkan Pendapi Ageng menuju pringgitan.
Upacara selesai dengan sebelumnya ditampilkan tarian sakral Bedhaya Anglir Mendhung Pura Mangkunegaran. Tarian tersebut berlangsung selama kurang lebih 50 menit.








