Sumartono Hadinoto : 19 Tahun Solo Bersama Selamanya, Toleransi Tanpa Memandang Religi

oleh
oleh
Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani bersama Panitia Solo Bersama Selamanya 2025 | MettaNEWS / Puspita

SOLO, MettaNEWS – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, ada satu kegiatan tahunan yang menjadi simbol kebersamaan dan toleransi di Kota Solo: Solo Bersama Selamanya (SBS). Tahun ini, gerakan sosial tersebut memasuki usia ke-19. Sebuah perjalanan panjang yang menunjukkan bagaimana warga Solo bersatu dalam keberagaman untuk membantu sesama, tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun komunitas.

SBS bukan sekadar kegiatan pembagian sembako. Ia telah menjadi gerakan kolektif yang mengakar dalam semangat gotong-royong masyarakat Solo. Diinisiasi hampir dua dekade lalu, program ini selalu hadir menjelang lebaran, membawa harapan dan senyum bagi ribuan warga kurang mampu di Solo. Tahun ini, sebanyak 10 ribu paket sembako kembali disalurkan – angka yang konsisten dipertahankan meski tantangan ekonomi dan pasca pandemi masih membayangi. Bahkan pernah pada tahun-tahun sebelumnya, jumlah paket sembako yang disalurkan mencapai 11 hingga 18 ribu Paket.

Pembina Solo Bersama Selamanya, Sumartono Hadinoto, tokoh di balik gerakan ini, menyampaikan bahwa SBS tidak akan bertahan sejauh ini tanpa partisipasi luas masyarakat.

“Para donatur berasal dari berbagai komunitas, organisasi, bahkan lintas agama. Semua ikut menyumbang, walau hanya satu paket. Inilah wajah toleransi Solo yang harus terus kita jaga,” ungkapnya.

Semangat berbagi ini sejalan dengan nilai-nilai kebhinekaan yang terus dijaga oleh warga Solo. Bahkan Wali Kota Solo dalam sambutannya turut menekankan pentingnya menjaga kerukunan antarwarga.

“Solo ini kota toleran, dan SBS adalah buktinya,” ujar Martono.

SBS juga mencatat perkembangan signifikan. Dari tahun-tahun pertama yang hanya membagikan paket senilai Rp70 ribu, kini satu paket bernilai Rp120 ribu – menyesuaikan dengan naiknya harga kebutuhan pokok. Di tahun-tahun sebelum pandemi, jumlah paket sempat menembus angka 18 ribu, namun kini perlahan bangkit kembali.

Yang membuat SBS istimewa bukan hanya jumlah bantuan, melainkan proses di baliknya. Ratusan relawan, dari berbagai latar belakang, turun tangan memastikan semua berjalan lancar dan tepat sasaran. Mereka tidak hanya membagikan sembako, tapi juga menebar semangat solidaritas.

SBS bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang menjaga jati diri Kota Solo yang damai, inklusif, dan penuh kepedulian. Sudah 19 tahun berlalu, dan semangat itu tak pernah surut.

“Sebagai wong Solo, sekecil apapun kontribusinya, kita harus ambil bagian. Ini rumah kita bersama yang harus terus kita jaga toleransinya agar semakin nyaman kita tinggali, ” tutup Sumartono.