Solo Mengajar, Sinar Harapan Anak-anak Kurang Mampu untuk Mengenyam Pendidikan

oleh
Solo Mengajar
Kegiatan rutin Solo Mengajar | dok Instagram @solomengajar

SOLO, MettaNEWS – Solo Mengajar, forum edukasi yang dibentuk pada tahun 2012 lalu ini merupakan wadah untuk melayani dan kebutuhan pendidikan untuk anak-anak yang kurang mampu di Kota Solo. Solo Mengajar  ini memiliki kegiatan rutin yang biasa dilakukan di 7 Taman Cerdas dan 2 Rumah Mengajar yang tersebar di Kota Solo.

Memberikan pendampingan akademik dan karakter budaya pada anak-anak kurang mampu, semangat serta harapan yang dibawa Solo Mengajar dapat membawa anak-anak di Solo untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak.

“Karakter budaya yang kami berikan di antaranya mengenalkan berbagai permainan tradisional anak-anak, seperti gobak sodor, beteng betengan, egrang, dakon, dan lain-lain,” ucap Didik Kartika, Direktur Solo Mengajar saat berjumpa di Radio Metta Solo FM, Rabu (25/5/2022).

Mampu menarik keinginan para volunteer untuk ikut serta berkontribusi dalam memajukan pendidikan anak-anak di Solo, dalam setahun Solo Mengajar mengadakan rekruitmen sebanyak 2 kali.

“Sejak berdiri tahun 2012, kami sudah merekrut hingga ribuan volunteer. Sebagain besar volunteer yang bergabung merupakan energy anak-anak muda yang masih duduk di bangku kuliah,” tambahnya.

Event-event yang pernah digelar Solo Mengajar ini diantaranya Festival Anak Solo, Kelas Inspirasi, Open Rekrutmen, Ultah Solo Mengajar, Nonton Bareng Film-film edukasi.

“Solo Mengajar merupakan “Rumah Perbedaan”. Tempat berkumpul semua insan intelektual dan anak-anak tanpa membedakan suku, etnis, agama dan golongan. Untuk itulah rasanya sangat pas kami mengambil tema yang kami ambil dalam HUT ke-10 Solo Mengajar Satu dekade Solo Mengajar, Merajut Perbedaan untuk Anak-anak Indonesia,” terang Didik.

Solo Mengajar yang lahir pada tanggal 25 Mei 10 tahun silam ini berkomitmen untuk memajukan pendidikan di Solo. Didorong oleh keinginan para founder yang ingin berkontribusi positif pada Ibu Pertiwi melalui karya pendampingan anak-anak, Solo Mengajar terus berperan aktif hingga saat ini.

“Solo Mengajar sadar hidup dalam sejarah bangsa Indonesia yang sangat panjang sejak lahirnya Sumpah Palapa, Sumpah Pemuda, Kebangkitan Nasional, Perjuangan Masa Kemerdekaan yang meninggalkan warisan pengorbanan luar biasa dari para pejuang dan pendiri bangsa. Untuk itu, Solo Mengajar menghargai karakter budaya yang menjadi jati diri bangsa dan hal itu kami tanamkan ke para volunteer dan anak-anak dampingan kita,” jelas Didik.

Didik pun menyebut adanya pandemi Covid-19 pada dua tahun silam sempat membuat kegiatan Solo Mengajar terhenti. Hingga akhirnya di thaun 2022 ini di mana kondisi sudah membaik, Solo Mengajar mulai bangkit menyebarkan semangat kembali,

“Selama pandemic Covid-19, praktis seluruh kegiatan pengajaran vakum selama 2 tahun. Dan saat ini di usia ke 10, Solo Mengajar mulai menampakkan geliatnya untuk kembali berkarya. Karya kami ingin kami perluas hingga wilayah Solo Raya hingga Jawa Tengah. Sebab pendampingan terhadap anak-anak tidak terbatas ruang dan waktu. Harapan kami ini ingin kami lakukan tahap demi tahap menyesuaikan kemampuan semua sumber daya kami,” pungkasnya.