Solo Car Free Day, Ladang Rezeki bagi Pencari Rosok, Rela Kayuh Sepeda hingga Puluhan Kilometer

oleh
Solo Car Free Day
Pencari rosok mengayuh sepeda di Solo Car Free Day (SCFD), Minggu (22/5/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Gelaran Solo Car Free Day (SCFD) Minggu (22/5) tak hanya mampu mendatangkan pengunjung dari luar daerah untuk melakukan aktivitas berolahraga atau sekadar mencari sarapan. Nyatanya, gelaran ini juga mampu mendatangkan para pencari rosok dari berbagai daerah untuk memilah sampah untuk dijual. Bagi mereka yang jeli akan peluang ini, momen SCFD tak akan dibiarkan habis begitu saja tanpa mengantongi uang. Jika kebanyakan orang yang datang ke SCFD mengeluarkan uang, hal berbeda justru dirasakan oleh para pencari rosok.

Bagaimana tidak, SCFD mampu menyedot ribuan pengunjung untuk datang, bahkan lebih banyak jika dibandingkan dengan gelaran pertama. Hal ini tentunya berdampak pada banyaknya sampah yang dihasilkan. Melihat ada peluang untuk mendapatkan penghasilan, para pencari rosok pun mulai bekerja di tengah-tengah kerumunan.

Salah satunya Bejo (67), pencari rosok asal Ceper, Klaten ini juga sudah mencari rosok sejak SCFD pertama Minggu (15/5) lalu. Bejo mencari sampah yang dapat dijual seperti botol, kardus, kaleng, plastik, gelas minuman dan segala macam sampah yang menurutnya memiliki nilai bagi pengepul.

“Rosok yang kemarin (SCFD pertama) belum saya jual. Saya bawa pulang. Kalau saya kan rumahnya jauh jadi sampai sini sudah siang. Perjalanannya aja 2 jam. Saya berangkat dari jam 6 pagi. Sampai sini sudah hampir mau dibuka (jalannya),” ucap Bejo saat ditemui MettaNEWS di area Sriwedari, Solo, Minggu (22/5/2022).

Bejo yang sudah sejak 1995 terbiasa mencari rosok di Solo ini menyebut penghasilannya tak tetap karena hasil sampah yang dikumpulkan terkadang tidak dijual harian.

“Penghasilannya nggak bisa ditentukjan. Kalau rata-rata dapatnya Rp 30 ribu. Kalau saya nimbangnya 3 sampai 4 kali dalam seminggu,” tuturnya.

Sementara itu, Sri Miatun (52) warga asal Sukoharjo yang berangkat dengan mengayuh sepedanya sejak pukul 05.00 WIB. Sudah menekuni kegiatan mencari rosok sejak 10 tahun lalu, Atun sapaan akrabnya menyebut saat ini persaingan antar pencari rosok semakin banyak. Terlebih di SCFD yang baru dua kali terselenggara ini.

“Zaman dulu cuma sedikit yang nyari rosokan pas acara ini (Solo Car Free Day). Dalam sehari saya bisa dapat Rp 100 ribu. Kalau sekarang dapatnya Rp 25 ribu. Sekarang juga dilarang sama Satpol PP, pemulung cari rosok di Car Free Day itu nggak boleh. Sebenarnya nggak boleh tapi pada nekat,” terang Atun saat ditemui usai Solo Car Free Day, Minggu (22/5/2022).

Mencari sampah yang sama dengan Bejo, Atun mengaku pendapatannya tak sebanyak rekan-reklan yang lain.

“Dapatnya satu bal itu nanti sudah nggak nyari. Dijualnya besok, kalau berat botol itu Rp 2.500/kilogram. Kalau kardus sebelum puasa itu Rp 3.500/kilogram, sekarang turun jadi Rp 2.000/kilogram. Sekarang itu sopir becak juga ikutan cari rosok. Becaknya kan sepi jadi milih nyari rosok. Ada yang jualan nggak laku. Orang punya naiknya motor juga nyari rosok. Saya sampai bingung mau kerja apa,” ucap Atun.

“Dijualnya ke Gemblegan. Kan ada cabang rosok. Kadang dalam seminggu saya dapatnya Rp 100 ribu. Saya kumpulin setiap hari, kadang seminggu dapet Rp 120 ribu,” tuturnya.

“Kalau dulu Car Free Day sebelum pandemi itu rosokannya bagus. Kalau zaman dulu sebelum Corona itu yang nyari sedikit. Sekarang yang nyari mungkin sampai ratusan orang,” tutupnya.

Berbeda dari keduanya, Wahyono (41), warga asli Solo ini melihat peluang rejeki sejak SCFD pekan lalu. Ia mengaku pendapatan harian dengan mingguan lebih banyak jika dikumpulkan terlebih dahulu.

“Sampahnya itu saya ambil plastik aja. Kalau kardus saya nggak ambil karena basah. Karena kan kesusahan. Kalau Car Free Day Minggu kemarin dapatnya paling 20 kilogram. Satu kilogramnya beda-beda tergantung jenisnya, kalau plastic gelas satu lebih tinggi. Tapi kalau campur sampahnya ya harganya sedikit lebih rendah,” jelas Wahyono.