Shinta Wahid dan Romo Budi Putar Kenangan Gus Dur, Bapak Pluralisme Indonesia

oleh
Gus Dur
Romo Budi iringi syair Abu Nawas di acara istri Presiden ke-4 Gus Dur, Shinta Nuriyah Wahid di Balai Kota Solo, Rabu (12/4/2023) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Shinta Nuriyah Wahid, istri Presiden ke-4 RI membawa serta ingatan warga Solo akan sosok Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Suaminya yang telah berpulang 14 tahun silam.

Dalam acara Menyapa Masyarakat Solo di Pendapi Gede Balai Kota Solo, Rabu (12/4/2023), Shinta Wahid mengajak semua yang hadir dari segala komponen menyanyikan syair munajat Abu Nawas. Syair yang kerap dibawakan Gus Dur untuk menutup pidatonya.

“Apakah Bapak Ibu sekalian mengenal Gus Dur? Mengenalnya dari apa? Apa sih yang terkenal dari Gus Dur. Apa yang bapak ibu dengar dari Gus Dur itu apa? Lucu terus apa? Humanis, toleran, tapi yang paling populer adalah gitu aja kok repot,” kelakar Shinta Wahid.

“Iya nggak? Tapi semua mengenal Gus Dur? Kalau saya mengajak yang paling dekat dengan Gus Dur untuk mengenang Gus Dur mau apa enggak?. Gus Dur itu kalau mau menutup pidatonya selalu membaca syair munajatnya Abu Nawas, apakah ada yang bisa?,” ajaknya sembari bertanya.

Ajakan itu kemudian disambut oleh Romo Budi, salah satu tokoh agama Katolik yang hadir dalam acaranya. Seiring Shinta Wahid membawakan syair Abu Nawas, Romo Budi mengiringinya dengan alunan seksphone.

Tak berselang lama bait demi bait syair Abu Nawas menggema di seluruh sudut Balai Kota Solo petang itu. Syair doa ciptaan Abu Nawas untuk merayu Tuhan.

Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa alaa naaril jahiimi. Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil azhiimi. Dzunuubii mitslu a daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali,” alunan syair Abu Nawas yang dilantukan Shinta Wahid diringi Romo Budi.

Pemandangan ini mampu membuat siapa saja merinding. Rasanya Shinta Wahid benar-benar membawa arti toleransi yang sesungguhnya sore itu. Tentang bagaiamana antar umat saling hidup beriringan dan menghormati.

Shinta Wahid Bawa Pesan Toleransi Gus Dur

Dalam kesempatan itu, Shinta Wahid menyampaikan berbagai hal termasuk bagaiamana saling menghargai dan menghormati antar umat.

“Saling berbaur, bertolong-tolongan, mengasihi bukan saling gontok-gontokan. Karena sesungguhnya manusia yang mulia di sisi Allah adalah orang yang bertakwa. Jadi siapapun kita, apapun jabatannya kalau kita tidak bertakwa maka bukan orang yang bertakwa,” ucap Shinta Wahid dalam bincang sore ini.

Shinta Wahid juga menceritakan sebuah kegiatan yang ia badakan bernama sahur kaum duafa dan marjinal. Kegiatan ini ia lakukan sejak Gus Dur masih ada.

“Kira-kira sudah 23 tahun kegiatan sahur bersama kaum duafa dan kaum marjinal. Jadi bukan kegiatan saya bukan bersama, tapi sahur bersama,” ujar Shinta Wahid.

Lewat sahur bersama, Shinta Wahid mengajak semua komponen yang ada untuk saling toleransi dengan cara yang benar.

“Kalau saya sahur keliling sahur bersama kaum duafa dan kaum marjinal yang mengikut sertakan semua komponen yang ada di Indonesia dalam rangka untuk memperkuat keutuhan dan kekuatan negara kesatuan Republik Indonesia,” ujar dia.