SOLO, MettaNEWS – Suasana meriah, haru dan penuh kehangatan mewarnai Reuni 50 Tahun Alumni lulusan 1975 SMP Widya Wacana Solo yang digelar pada Jumat (16/1/2026) di Wisma Boga, Solo Baru.
Mengusung tema “Setengah Abad Sejuta Kenangan”, reuni emas ini tidak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga sarat dengan semangat kepedulian terhadap sesama, masyarakat, dan almamater.
Koordinator Panitia Reuni 50 Tahun Alumni 1975 Widya Wacana , dr. Bambang Santoso, menjelaskan bahwa reuni ini sejatinya merupakan peringatan 50 tahun kelulusan alumni 1975 yang seharusnya dirayakan pada tahun sebelumnya.
“Jadi ini adalah reuni SMP yang ke-50 karena kami lulus itu tahun 1975. Jadi pada tahun kemarin sebetulnya itu 50 tahun, tapi baru kita rayakan saat ini sudah di tahun 2026,” ujar dr. Bambang Santoso.
Ia menuturkan, gagasan reuni ini muncul karena adanya kesinambungan pertemuan alumni setiap satu dekade. Reuni terakhir digelar 10 tahun lalu saat peringatan 40 tahun kelulusan, yang kala itu juga melibatkan para guru.
“10 tahun yang lalu itu kita mengadakan reuni juga di sini. Pada saat itu yang diundang adalah guru yang notabene mereka semua lansia. Sudah ada yang di Banjarnegara, sudah ada di luar kota itu dulu bisa kumpul. Waktu itu sekitar 30 guru bisa berkumpul,” kenangnya.
Namun, pada reuni emas kali ini, panitia memutuskan fokus pada alumni 1975, mengingat usia para alumni yang kini juga telah memasuki masa lanjut usia.
“Saat ini ketika 10 tahun kemudian ya saat ini kita rumuskan reuninya khusus untuk semua alumni 1975 mengingat alumninya juga sudah lansia,” lanjutnya.
Menurut dr. Bambang, reuni 50 tahun ini dipandang sebagai momentum usia emas. Antusiasme alumni pun cukup tinggi sehingga acara dapat terselenggara dengan baik.
“Ini baru yang 50 tahun berpikir bahwa usia emas jadi kemudian diadakan dan respon cukup bagus sehingga memang bisa terlaksana pada saat ini,” katanya.
Ia mengungkapkan, saat masih bersekolah di SMP Widya Wacana 1 dan 2 di Jalan Bawen Pasar Legi, Banjarsari Solo total terdapat enam kelas dengan jumlah siswa sekitar 180 orang. Dari jumlah tersebut, tercatat sekitar 140 alumni hadir dalam reuni kali ini.
“Ini yang hadir kemarin tercatat 140, karena sudah beberapa alumni yang dipanggil Tuhan,” ucapnya dengan nada haru.
Tak sekadar bernostalgia, reuni ini juga dirumuskan dengan berbagai kegiatan bermakna. Panitia mengemas acara dalam tiga bentuk kepedulian sosial. Pertama, kepedulian antaralumni.
“Yang pertama kepedulian kepada alumni dari sesama alumni. Jadi ada beberapa tanda kasih untuk para alumni yang sebenarnya memang dalam kondisi yang kurang bagus. Ada mungkin sekitar 15 alumni di situ yang mendapatkan tanda kasih,” jelas dr. Bambang.
Kedua, kepedulian terhadap masyarakat umum melalui bantuan kepada dua panti asuhan, yakni Panti Asuhan Mandiri Betshan di Cemani dan Panti Asuhan Anak Seribu Pulau.
Ketiga, aksi sosial yang justru mendapat dukungan terbesar dari para alumni, yakni kepedulian terhadap almamater SMP Widya Wacana.
“Yakni peduli terhadap almamater. Jadi kita kumpul-kumpul dana itu walaupun kemudian enggak terlalu besar ya, tapi itu kita berikan kepada Yayasan Widya Wacana, untuk almamater,” ujarnya.

Dalam acara tersebut, panitia juga mengundang Ketua Yayasan Widya Wacana yang merupakan sesama alumni 1975, yakni dr. William Tanoyo.
“Saat ini Ketua Yayasan juga kita undang dan masih alumni angkatan kita juga, yaitu dr. William Tanoyo,” tambahnya.
Lebih lanjut, dr. Bambang menegaskan bahwa reuni ini tidak dimaksudkan berhenti sebagai seremoni semata, tetapi menjadi awal gerakan berkelanjutan.
“Karena saat ini kami reuni dikala semua alumni itu sudah masuk masa lansia bahkan beberapa dari kami sudah dipanggil Tuhan. Ya kita merasa memang di sisa waktu ini bisa dipakai untuk menjadi berkat,” tuturnya.
Ia menyebutkan, para alumni juga merencanakan pembentukan persekutuan untuk saling mendukung dan memberi support kepada almamater.
“Jadi kita berharap bahwa nanti para alumni ini juga tidak berhenti pada saat reuni yang sekarang. Nanti ke depan tidak hanya berhenti di perayaan 50 tahun reuni ini,” katanya.
Bahkan, alumni 1975 memiliki kerinduan menjadi pelopor dalam kepedulian terhadap almamater.
“Kita punya kerinduan untuk menjadi pioneer dari sisi memberikan kepedulian kepada almamater, buat memberikan dukungan yang kira-kira cukup bermakna bagi almamater SMP Widya Wacana,” tegasnya.
Ia berharap langkah ini dapat menginspirasi alumni lintas angkatan untuk turut berkontribusi, terutama di tengah ketatnya persaingan dunia pendidikan saat ini.
“Mengingat sekarang persaingan dari sisi pendidikan kan berat ya. Dulu mungkin hanya beberapa sekolah, tapi sekarang berkembang banyak sekolah-sekolah di tingkat SMP yang cukup bagus. Ya kita berharap bahwa kita bisa berikan dukungan ya minimal masih bisa berkontribusi terhadap pendidikan di Surakarta ini,” pungkas dr. Bambang Santoso.








