Sekolah Penggerak Perkuat Kolaborasi Bukan Kompetisi, SDN Sondakan Pilih Terapkan Tri Pusat Pendidikan

oleh
Sekolah
Siswi SDN Sondakan membuat project Sekolah Penggerak, Kamis (16/6/2022) | MettaNEWS / Adinda Wardani

SOLO, MettaNEWS – Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Riset (Kemendikbud Ristek) menerapkan sistem kolaborasi dalam program Sekolah Penggerak. Seolah ingin menghapus sistem kompetisi, program ini menjadi lokomotif untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Melibatkan sejumlah komponen seperti Kepala sekolah Guru , Pengewas. Tenaga Kependidikan (tendik), siswa, kurikulum, keuangan dan sarana prasarana. Program ini dinahkodai oleh Kepala Sekolah yang menjadi penentu dalam seleksi awal penentuan layak atau tidaknya sebuah sekolah menjadi Sekolah Penggerak.

Dalam perjalanannya, menjadi Sekolah Penggerak tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Semangat dan komitmen yang kuat dari seluruh civitas akademika sekolah juga dibutuhkan. Pun program ini juga memiliki lima intervensi yang tak dapat dipisahkan. Di mana penguatan SDM sekolahnya yang meliputi KS, Guru, Tendik dan pengawas serta pembelajaran dengan penguatan kompetensi perlu dilakukan.  Perencanaan berbasis data, digitalisasi sekolah berupa aplikasi dan pendampingan konsultatif dan asimetris juga tak boleh luput.

Sekolah Penggerak, berbicara dan bertindak tentang berkolaborasi antar sekolah ataupun dengan mitra, misalnya kampus ataupun dengan lembaga lain yang menunjang mutu pendidikan.  Tentunya, baik mutu pendidikan dalam konteks yang lokal , nasional dan global sekolah penggerak  bukan berbicara melalui kompetisi sebagai tujuan utamanya.  Tapi, sekolah penggerak berbicara, mengenai kolaborasi yang apik, dengan mitra atau sekolah lain.

Melihat hal ini, sebagai salah satu sekolah yang terpilih sebagai Sekolah Penggerak angkatan pertama, SDN Sondakan, Solo mengacu pada tri pusat pendidikan. Hal ini disampaikan Kepala SDN Sondakan, Solo Prapti Handayani yang menyebut menganut visi Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantoro.

“Sekolah Penggerak itu identik dengan kolaborasi tri pusat pendidikan dari sekolah orangtua dan masyarakat. Kita sudah menganut dari Ki Hajar Dewantara sekolah itu bisa mendidik anak tapi kita juga harus kolaborasi dengan orang tua praktisi komunitas praktisi itu bisa dari berbagai segi. Pemangku kepentingan pendidikan bisa masyarakat, dunia usaha, industri, alumni,” beber Prapti saat ditemui di SDN Sondakan, Kamis (16/6/2022).

Ikut melibatkan pihak di luar sekolah, SDN Sondakan ingin menciptakan hasil pembelajaran yang lebih maksimal. Pencapaian ini dapat dilihat dari segi mind, meaning, material yang diharapkan lebih optimal.

“Itu yg namanya kolaborasi setiap kita punya program sekolah kita melibatkan mereka. Dengan pelibatan para komunitas praktisi kolaborasi tersebut akan lebih maksimal hasil yg kita capai dari program sekolah tersebutTermasuk live musik (keroncong) itu dari paguyuban orang tua. Kita bisa membatik, langsung terjun ke dunia industri usaha adalah karena adanya Kampung Batik,” terangnya.

Tak dapat dipungkiri, pendidikan yang berbasis kolaborasi memang menjadi kata kunci, sebab kolaborasi akan menjadikan pendidikan semakin kokoh.  Memang, tidak mudah melakukan hal tersebut. Hingga saat ini pihaknya sebagai civitas akademik masih berproses untuk mengoptimalkan tugas besar Kemendikbud. Tak lain, hal ini dilakukan  agar pendidikan di Indonesia bisa menjadi sangat baik.

Sekolah Penggerak bagaikan kiblat pendidikan di wilayah lain, memiliki indicator yang harus dapat mewarnai dirinya sendiri, Sekolah Penggerak harus mampu menjadi sekolah percontohan.  Sebagai sekolah rujukan yang dapat ditiru klarena baiknya system pembelajaran yang lebih mengarah pada adanya perubahan-perubahan yang lebih baik, sekolah-sekolah di lingkungan Sekolah Penggerak dapat mencontoh baik akademik maupun non akademik.