SOLO, MettaNEWS — Peralihan kekuasaan dari Majapahit menuju Demak tidak berlangsung dalam satu malam. Perebutan pengaruh, konflik politik, hingga peperangan menjadi bagian dari proses panjang yang kemudian membuka jalan bagi berkembangnya kekuasaan Islam di Jawa.
Namun, di balik perubahan politik tersebut, terdapat strategi dakwah yang menarik untuk dicermati. Salah satunya melalui pendekatan budaya yang dilakukan pada masa Raden Patah.
Hal itu disampaikan Drs KH Subari dalam Pengajian Munadhoroh Korp Muballigh Muhammadiyah di SMK Muhammadiyah 3 Surakarta, Sabtu (5/9/2026).
Dalam pengajian bertema penguatan ideologi Muhammadiyah tersebut, Subari turut mengulas peran Raden Patah dalam perkembangan Islam di Jawa, termasuk cara dakwah yang memanfaatkan budaya masyarakat setempat.
Menurut Subari, salah satu rangkaian penting dalam perubahan kekuasaan terjadi ketika Majapahit menghadapi serangan Girindrawardhana, penguasa Daha, Kediri. Kondisi politik yang tidak stabil itu kemudian menempatkan Raden Patah, yang disebut sebagai keturunan Brawijaya, dalam pusaran perubahan kekuasaan.
“Peralihan dari Majapahit ke Demak itu proses yang panjang. Raden Patah memiliki peran penting dalam melanjutkan kekuasaan sekaligus mengembangkan dakwah Islam,” ujar Subari.
Raden Patah kemudian dikenal sebagai penguasa Demak dengan gelar Sultan Alam Akbar. Perannya tidak hanya berkaitan dengan pemerintahan, tetapi juga perkembangan dakwah Islam di tengah masyarakat Jawa.
Gamelan Jadi Media Dakwah
Salah satu pendekatan yang menarik adalah penggunaan kesenian dan tradisi masyarakat sebagai media dakwah.
Subari menjelaskan, setiap bulan Mulud masyarakat diajak mengikuti Sekaten. Dalam kegiatan tersebut, gamelan Jawa dimainkan dan masyarakat berkumpul untuk menikmati pertunjukan sekaligus mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan.
Di tengah suasana tersebut, pesan-pesan Islam disampaikan kepada masyarakat. Mereka yang hendak menyaksikan kegiatan juga diarahkan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
Menurut Subari, istilah Sekaten kemudian dikaitkan dengan syahadatain, yakni dua kalimat syahadat.
“Dakwah melalui seni disenangi masyarakat Jawa karena kesenian sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Saat senang maupun susah, masyarakat tetap dekat dengan seni,” katanya.
Ia memberikan gambaran sederhana mengenai kuatnya hubungan masyarakat Jawa dengan kesenian. Bahkan ketika menjalani pekerjaan berat seperti membajak sawah, masyarakat kerap bekerja sambil bernyanyi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa seni telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena itu, pendekatan melalui budaya dinilai menjadi salah satu cara agar pesan agama lebih mudah diterima.
Dakwah Harus Memahami Budaya Masyarakat
Dari kisah tersebut, Subari mengatakan ada pelajaran yang relevan bagi dakwah pada masa kini.
Menurutnya, pesan agama akan lebih mudah diterima ketika disampaikan dengan pendekatan yang memahami kehidupan dan budaya masyarakat. Namun, pendekatan tersebut tetap harus menjaga substansi ajaran agama.
Bagi Muhammadiyah, semangat tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat dakwah yang mencerahkan.
Dakwah tidak sekadar menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga menghadirkan Islam dalam kehidupan masyarakat dengan cara yang dekat, menggembirakan, dan memberikan pencerahan.
“Dakwah, dalam pandangan itu, bukan hanya soal apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana pesan tersebut hadir, menyentuh, dan diterima masyarakat secara nyata pada zamannya,” pungkasnya.
Kisah dakwah Raden Patah melalui Sekaten dan gamelan tersebut menjadi gambaran bahwa perkembangan Islam di Jawa tidak terlepas dari kemampuan para pendakwah membaca kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Pendekatan budaya menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai-nilai agama tanpa menghilangkan akar kehidupan masyarakat Jawa.








