SOLO, MettaNEWS – Polemik mengenai gim daring Roblox mendapat sorotan dari akademisi dan pemain. Berdasarkan data Statista (2024), 40 persen pemain Roblox berusia 3-12 tahun.
Rinciannya, 20 persen di bawah usia 9 tahun dan 20 persen berusia 9-12 tahun. Sisanya, 16 persen berusia 13-16 tahun, 25 persen berusia 17-24 tahun, dan 19 persen berusia di atas 25 tahun.
Data tersebut menunjukkan hampir setengah pemain Roblox adalah anak-anak berusia 3-12 tahun, kelompok usia yang rentan meniru ucapan dan perilaku di dunia digital.
Dengan sifat gim berbasis roleplay dan kontennya dibuat pengguna, interaksi di Roblox sulit sepenuhnya dikontrol.
Kondisi ini membuat pakar bahasa menilai Roblox berisiko menularkan kekerasan verbal, terutama melalui voice chat, sehingga literasi bahasa sejak dini menjadi kebutuhan mendesak.
Anak SD Rentan Meniru Bahasa Kasar
Dosen Linguistik, Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Bakdal Ginanjar, S.S., M.Hum., menyebut bahwa kekerasan verbal di gim daring seperti Roblox tidak lepas dari sifat anak yang mudah meniru.
Ujaran kasar atau disfemisme sering muncul dalam situasi pemain mengalami kekalahan, kegagalan, atau frustrasi saat bermain.
Lama-kelamaan, perilaku ini akan mengarah pada hal negatif, dan ujungnya bahasa kasar itu bisa menjadi kebiasaan.
Menurut Bakdal, menghilangkan kekerasan verbal di gim daring memang sulit, namun bukan berarti tidak bisa dikurangi.
“Langkah yang bisa diambil mungkin diupayakan dengan kita menciptakan sistem yang tidak memunculkan pelaku untuk menggunakan bahasa itu secara lisan atau secara tulis di aplikasi itu ya. Kalau hanya menyaring saja kelihatannya masih tetap bocor,” ujarnya saat ditemui di FIB UNS.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan komunitas bermain anak. Pengaruh teman sebaya di dunia nyata dan dunia digital sangat kuat.
Tanpa pengawasan dan pembiasaan bahasa yang positif, anak mudah terbawa arus bahasa kasar.
Meskipun Roblox telah memiliki sistem sensor otomatis di fitur chat, masih terdapat celah di komunikasi suara (voice chat) dan aplikasi pihak ketiga.
Bakdal menilai literasi bahasa menjadi langkah strategis untuk membekali anak agar mampu membedakan bahasa yang pantas dan tidak pantas.
Apalagi, sifat interaksi di gim daring berbeda dengan tatap muka.
“Anak sering tidak tahu kata yang diucapkannya itu kasar. Literasi di rumah dan sekolah harus menyesuaikan karakter generasi alfa dan beta, bukan meniru pola didik generasi sebelumnya,” tegasnya.
Pengalaman Pemain Dewasa dan Anak
Rifki Fawwaz (22), pemain Roblox, mengaku sering mendengar bahasa kasar melalui voice chat.
“Kalau di chat, kata-kata kasar tersensor. Tapi di voice chat, enggak bisa. Kadang anak-anak kecil juga ikut ngomong kasar,” katanya.
Meski menyadari risiko tersebut, Rifki tidak setuju jika Roblox diblokir. Menurutnya, pendampingan orang tua lebih penting.
“Jangan minjemin KTP untuk verifikasi voice chat ke anak. Orang tua harus tahu anaknya main apa saja,” tegasnya.
Sementara itu, Radian Harjuna Derbito (12), yang bermain Roblox sejak TK, mengaku pernah bertemu pemain yang berkata kasar.
“Sakit rasanya. Kadang pengen niruin, tapi biasanya tak unfriend,” ujarnya.
Selain itu, Radian menolak rencana pemblokiran.
“Aku sedih kalau Roblox dihapus. Mending diawasi saja, karena aku enggak ngomong kasar,” tambahnya. (Mohamad Adib Rifai/KMM Sastra Indonesia FIB UNS)








