SOLO, MettaNEWS – Revitalisasi kawasan Keraton Kulon atau Keraton Kilen di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat mulai memasuki tahap pelaksanaan. Dalam proses pemulihan tiga bangunan bersejarah tersebut, pihak keraton meminta agar keaslian arsitektur tetap dijaga, material lama yang masih layak dipertahankan, serta rencana penambahan tembok baru ditiadakan.
Kesepakatan tersebut mengemuka dalam rangkaian koordinasi persiapan revitalisasi pada Jumat (16/10/2026). Pekerjaan difokuskan pada pemulihan bangunan sesuai bentuk aslinya, perbaikan bagian yang rusak, serta penguatan elemen yang rapuh tanpa mengubah karakter historis kawasan.
Persiapan revitalisasi diawali dengan rapat Pre Construction Meeting (PCM) yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi secara daring. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peninjauan langsung ke lokasi untuk mencocokkan desain perencanaan dengan kondisi faktual bangunan.
KPH Eddy Wirabhumi, anggota tim hukum Keraton Surakarta Hadiningrat/Lembaga Dewan Adat, mengatakan koordinasi tersebut melibatkan tim perencana, manajemen konstruksi, kontraktor pelaksana, tenaga ahli, serta perwakilan pihak karaton.
“Pada hari ini dilakukan rapat secara daring, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke lokasi bersama tim perencana, manajemen konstruksi, pelaksana, dan pihak-pihak terkait, termasuk dari keraton. Per hari ini, revitalisasi Keraton Kulon dinyatakan dimulai sehingga peralatan dan kebutuhan yang diperlukan untuk pekerjaan sudah bisa mulai didatangkan ke lokasi,” kata Eddy.
PB XIV dan Gusti Moeng Sampaikan Aspirasi
Dalam persiapan tersebut, pihak keraton menyampaikan sejumlah aspirasi agar pelaksanaan revitalisasi tetap memperhatikan nilai sejarah dan karakter arsitektur kawasan.
Aspirasi disampaikan GKR Wandansari atau Gusti Moeng, selaku Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta Hadiningrat, serta Sinuhun Sri Susuhunan Pakubuwono XIV atau PB XIV, yang sebelumnya dikenal sebagai KGPH Hangabehi.
PB XIV turut mengikuti rapat melalui Zoom dan menyampaikan pesan mengenai pelaksanaan revitalisasi Keraton Kulon. Masukan tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam penyesuaian desain dengan kondisi bangunan di lapangan.
“Jadi, sebetulnya lebih kepada menyesuaikan antara gambar desain dengan kondisi di lokasi. Ada aspirasi dari keraton yang diwakili Gusti Moeng maupun Sinuhun Pakubuwono XIV. Kemarin waktu Zoom, Sinuhun PB XIV juga sempat hadir dan menyampaikan pesan-pesan beliau. Setelah Zoom, kemudian dilanjutkan ke lapangan untuk mencocokkan gambar dengan kondisi lokasi,” ungkap Eddy.
Menurut dia, penyesuaian diperlukan agar pelaksanaan pekerjaan tidak menghilangkan karakter asli kawasan yang menjadi bagian penting dari lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat.
Penambahan Tembok Baru Ditiadakan
Salah satu poin penting hasil peninjauan lapangan adalah ditiadakannya rencana penambahan tembok baru. Pendekatan revitalisasi diarahkan pada perbaikan dan pemulihan bangunan yang sudah ada, bukan penambahan konstruksi yang berpotensi mengubah karakter kawasan.
“Di lapangan tadi disepakati bahwa rencana penambahan tembok baru ditiadakan. Keraton Kulon ini merupakan bagian yang sangat inti di keraton. Karena itu, yang disepakati adalah mengembalikan bangunan seperti aslinya. Bangunan yang rusak diperbaiki, bagian yang rapuh diperkuat kembali, tanpa penambahan-penambahan baru,” jelas Eddy.
Meski demikian, fasilitas pendukung tetap dapat dipertimbangkan apabila benar-benar dibutuhkan. Pembaruan fasilitas, seperti kamar mandi, dimungkinkan untuk memenuhi kebutuhan kualitas dan kenyamanan dengan tetap memperhatikan keselarasan dengan bangunan di lingkungan keraton.
Prinsip yang diutamakan adalah memperbaiki bagian yang rusak, mempertahankan elemen yang masih layak, serta menghindari penggantian material secara menyeluruh tanpa pertimbangan teknis dan historis yang memadai.
Arkeolog Ingatkan Pemeriksaan Sebelum Pembongkaran
Aspek pelestarian juga menjadi perhatian dalam peninjauan lapangan yang melibatkan dua arkeolog. Mereka mengingatkan pentingnya memeriksa tingkat kerusakan bangunan sebelum pembongkaran dilakukan.
Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengidentifikasi komponen yang masih dapat dipertahankan dan digunakan kembali. Dengan demikian, material lama tidak langsung diganti apabila kondisinya masih memungkinkan untuk dimanfaatkan.
“Arkeolog yang hadir tadi juga menyampaikan pesan khusus bahwa sebelum dibongkar, sebaiknya diketahui lebih dahulu tingkat kerusakannya. Jadi, kalau masih bisa digunakan, ya digunakan kembali, jangan langsung diganti. Intinya sejalan dengan pesan yang kami sampaikan,” ujar Eddy.
Masukan tersebut diharapkan menjadi dasar dalam menentukan metode perbaikan yang tepat sekaligus meminimalkan penggantian material yang sebenarnya masih layak digunakan.
Elevasi Tanah dan Material Atap Masih Dikaji
Selain kondisi fisik bangunan, persoalan elevasi atau ketinggian tanah turut menjadi perhatian dalam revitalisasi Keraton Kulon.
Eddy menjelaskan, ketinggian jalan di luar kawasan mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Sementara itu, menurut keterangannya, kawasan yang ditinjau belum mengalami peninggian sejak era pemerintahan Pakubuwana X.
Perbedaan ketinggian tersebut perlu diperhitungkan agar air dari jalan di luar kawasan tidak mengalir masuk ke lingkungan Keraton Kulon.
“Kalau leveling-nya tidak diperhitungkan, air dari jalan di luar justru bisa masuk ke Keraton Kulon. Tadi hal itu juga menjadi perhatian dalam pembahasan,” jelasnya.
Karena itu, perencanaan elevasi perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar, arah aliran air, serta karakter bangunan bersejarah agar penanganan teknis tidak mengabaikan aspek pelestarian.
Sementara itu, pemilihan material atap masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut. Sejumlah bangunan saat ini menggunakan genteng, sedangkan penggunaan sirap menjadi salah satu alternatif yang dipertimbangkan agar sesuai dengan karakter arsitektur bangunan keraton.
“Bangunan-bangunan di situ sekarang sudah menggunakan genteng. Ada usulan agar bangunan tersebut menggunakan sirap seperti bangunan keraton. Namun, apakah atapnya dikembalikan ke sirap atau tetap menggunakan genteng, hal itu masih perlu dirundingkan dan menjadi bahan pertimbangan dalam rapat selanjutnya,” ungkap Eddy.
Keputusan mengenai material atap akan mempertimbangkan kondisi fisik bangunan, kebutuhan teknis, kesesuaian desain, dan prinsip pelestarian warisan budaya.
Tiga Bangunan Bersejarah Menjadi Sasaran
Revitalisasi Keraton Kulon mencakup tiga bangunan, yakni Bangsal Pradongga Lor, Bangsal Bujana, dan Bangsal Pradongga Kidul.
Seiring dimulainya tahapan pelaksanaan pada Jumat (16/10/2026), peralatan dan kebutuhan pekerjaan sudah dapat mulai didatangkan ke lokasi. Namun, sejumlah aspek teknis, termasuk pemilihan material atap dan penyesuaian desain, masih memerlukan koordinasi lanjutan.
Keterlibatan Kementerian Kebudayaan, tim perencana, manajemen konstruksi, kontraktor, tenaga ahli, serta pihak keraton diharapkan dapat menyelaraskan kebutuhan teknis dengan prinsip pelestarian.








