PEKALONGAN, MettaNEWS – Aduan warga terkait banjir berkepanjangan di Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, langsung direspons Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen.
Setelah menerima laporan, Wakil Gubernur turun langsung ke lokasi dan memastikan pengerahan alat berat untuk penanganan darurat berupa peninggian tanggul serta normalisasi sungai.
Gus Yasin, sapaan akrab Taj Yasin, mengungkapkan laporan pertama ia terima saat berada di Pekalongan untuk menghadiri agenda lain.
Salah seorang warga kemudian menghubunginya dan mempertemukan dengan empat kepala desa di Kecamatan Tirto, yakni Desa Mulyorejo, Tegaldowo, Karangjompo, dan Pacar.
Dari komunikasi tersebut, diketahui banjir telah menggenangi wilayah Kecamatan Tirto selama sekitar 17 hari. Kondisi itu membuat aktivitas warga terganggu dan akses antarwilayah terputus.
Menurut Gus Yasin, permintaan warga relatif sederhana, yakni ketersediaan alat berat untuk meninggikan tanggul sungai. Langkah ini dinilai penting sebagai bagian dari normalisasi sungai sekaligus penguatan tanggul agar luapan air tidak terus berulang saat musim hujan.
“Yang dibutuhkan sebenarnya tidak banyak, hanya alat berat untuk meninggikan tanggul. Ini bagian dari normalisasi sungai sekaligus membangun tanggul,” jelas Gus Yasin usai meninjau Sungai Sengkarang di Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Minggu (1/2/2026).
Wagub juga mengapresiasi kesadaran warga yang mulai memahami bahwa salah satu penyebab banjir berasal dari aktivitas di bantaran sungai.
Pemanfaatan bantaran yang tidak terkendali menyebabkan penurunan elevasi tepi sungai sehingga air mudah melimpas ketika hujan deras.
“Masyarakat sudah menyadari bahwa ini juga akibat aktivitas kita sendiri di bantaran sungai. Saat musim hujan akhirnya melimpah dan menimbulkan banjir. Karena itu kami segera turunkan alat berat,” tegasnya.
Sementara itu, Harmonis, warga Desa Tegaldowo, mengaku mengadukan kondisi tersebut karena mengetahui Wakil Gubernur Jawa Tengah tengah berkunjung ke Pondok Pesantren Roudhlotul Qur’an, Jetak Kidul, Wonopringo, Kabupaten Pekalongan.
“Telepon pertama tidak diangkat, kemudian beliau menelepon balik,” katanya.
Menurutnya, tanggul sungai di wilayah tersebut sudah lama membutuhkan ji, namun belum mendapat penanganan optimal dari pemerintah daerah.
“Untuk pemda sendiri kurang memperhatikan, mungkin karena masalah anggaran yang tidak mampu,” ujarnya.
Kepala Desa Tegaldowo, Budi Junaidi, menjelaskan banjir telah melumpuhkan aktivitas warga. Akses keluar-masuk desa terputus dan hanya bisa dilalui menggunakan perahu. Ketinggian air di sejumlah titik bahkan mencapai sekitar 90 sentimeter.
“Kami minta Sungai Sengkarang segera dinormalisasi, karena luapan airnya banyak berasal dari sana,” kata Budi.
Di sisi lain, relawan setempat, Muhammad Nizar, menyebut banjir dipicu kombinasi beberapa faktor, mulai dari hujan lokal, kiriman debit air besar dari wilayah selatan, hingga limpasan Sungai Sengkarang. Kondisi rob di kawasan pesisir turut memperparah situasi karena menghambat pembuangan air ke laut.
Ia menambahkan, meskipun pompa banjir telah dioperasikan, kapasitasnya belum mampu mengimbangi besarnya volume air.
“Pompa jalan terus, tapi debit airnya terlalu besar, jadi belum bisa mengatasi seratus persen,” paparnya.
Relawan bersama warga setempat telah mendirikan posko dan memprioritaskan evakuasi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak, sementara para pemuda bertahan untuk menjaga rumah masing-masing.








